Friday, 15 May 2015

MAKALAH KONSEP EVALUASI



BAB I
PENDAHULUAN

A.  LATAR BELAKANG

Salah satu kompetensi yang dikuasai oleh seorang guru adalah evaluasi pembelajaran. Kompetensi ini sejalan dengan tugas dan tanggung jawab guru dalam proses pembelajaran, yaitu mengevaluasi pembelajaran termasuk di dalamnya melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar. Kompetensi tersebut sejalan pula dengan instrument penilaian kemampuan guru, yang salah satu indikatornya adalah melakukan evaluasi pembelajaran. Selain itu masih banyak lagi model yang menggambarkan kompetensidasar yang harus dikuasai guru.
Hal ini menunjukkan bahwa pada semua model kompetensi dasar guru selalu menggambarkan dan mensyaratkan adanya kemampuan guru dalam mengevaluasi pembelajaran, sebab kemampuan melakukan evaluasi pembelajaran merupakan kemampuan dasar yang mutlak harus dimiliki setiap guru atau calon guru.
Didalam buku tentang evaluasi di jelaskan beberapa istilah yang hampir sama tetapi berbeda, seperti evaluasi, pengukuran, dan tes. Hal tersebut dapat membingungkan, apakah pengukuran dan tes itu sama? Tentu saja istilah-istilah tersebut berbeda satu dengan yang lain, baik ruang lingkup maupun fokus yang dinilai.

B.  RUMUSAN MASALAH

1.      Apa yang disebut dengan pengukuran?
2.      Apa yang disebut dengan penilaian?
3.      Apa yang dimaksud dengan evaluasi?
4.      Apakah keterkaitan antara pengukuran, penilaian, dan evaluasi?
5.      Apa saja prinsip evaluasi?
6.      Bagaimana langkah-langkah penilaian?










BAB II
KAJIAN TEORI


Dalam sistem pembelajaran, evaluasi merupakan salah satu komponen penting dan sebagai suatu tahap yang harus ditempuh oleh guru untuk mengetahui keefektifan pembelajaran. Hasil yang diperoleh dapat dijadikan balikan (feed-back) bagi guru dalam memperbaiki dan menyempurnakan program dan kegiatan pembelajaran. Di sekolah seringkali seorang guru memberikan ulangan harian, ujian akhir semester, ujian blok, tagihan, tes tindakan, dan sebagainya. Istilah-istilah ini pada dasarnya merupakan bagian dari sistem evaluasi.
Ada beberapa istilah yang sering disalah artikan dan disalahgunakan dalam praktik evaluasi, yaitu tes, pengukuran, penilaian, dan evaluasi. Secara konsepsional istilah-istilah tersebut berbeda satu sama lain, tetapi mempunyai hubungan yang sangat erat.
Menurut Sax (1980 : 13) bahwa “a test may be defined as a task or series of task used to obtain systematic observations presumed to be representative of educational or psychological traits or attributes”. (tes dapat didefinisikan sebagai tugas atau serangkaian tugas yang digunakan untuk memperoleh pengamatan-pengamatan sistematis yang dianggap mewakili ciri atau atribut pendidikan atau psikologis). Istilah tugas dapat berbentuk soal atau perintah lain yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Hasil kuantitatif ataupun kualitatif dari pelaksanaan tuga tersebut digunakan untuk menarik simpulan-simpulan tertentu terhadap peserta didik.
Menurut S. Hamid Hasan (1988 : 7) menjelaskan “tes adalah alat pengumpulan data yang dirancang secara khusus. Kekhususan tes dapat terlihat dari konstruksi butir (soal) yang digunakan”. Selanjutnya menurut Conny Semiawan S. (1986) mengemukakan tes adalah “…. Alat pengukur untuk menetapkan apakah berbagai faset dari kesan yang kita perkirakan dari seseorang adalah benar-benar merupakan fakta, juga adalah cara untuk menggambarkan bermacam-macam faset ini se-objektif mungkin”.
Dengan demikian, tes pada hakikatnya adalah suatu alat yang berisi serangkaian tugas yang harus dikerjakan atau soal-soal yang harus dijawab oleh peserta didik untuk mengukur suatu aspek perilaku tertentu. Artinya, fungsi tes adalah sebagai alat ukur. Dalam tes prestasi belajar, aspek perilaku yang hendak diukur adalah tingkat kemampuan peserta didik dalam menguasai materi pelajaran yang telah disampaikan.
Kemudian untuk pengertian dari pengukuran, penilaian, dan evaluasi dijelaskan sebagai berikut :

A.  PENGUKURAN

Menurut Ahmann dan Glock dalam S. Hamid Hasan (1988 : 9), “in the last analysis measurement is only a part, altought a very substansial part of evaluation. It provide information upon wich an evaluation can be based…. Educational measurement is the process that attempt to obtain a quantified representation of the degree to wich a trait is possessed by a pupil”. (dalam analisis terakhir, pengukuran hanya merupakan bagian, yaitu bagian yang sangat substansial dari evaluasi. Pengukuran menyediakan informasi, dimana evaluasi dapat didasarkan…. Pengukuran pendidikan adalah proses yang berusaha untuk mendapatkan representasi secara kuantitatif tentang sejauh mana suatu cirri yang dimiliki oleh peserta didik).
Menurut Wiersma dan Jurs (1985), bahwa “technically, measurement is the assighment of numerals to objects or events according to ruler that give numeral quantitative meaning”. (secara teknis, pengukuran adalah pengalihan dari angka ke objek atau peristiwa sesuai dengan aturan yang memberikan makna angka secara kuantitatif).
Menurut cangelosi (1995) yang dimaksud dengan pengukuran (measurement) adalah suatu proses pengumpulan data melalui pengamatan empiris untuk mengumpulkan informasi yang relevan dengan tujuan yang telah ditentukan. Dalam hal ini guru menaksir prestasi siswa dengan membaca atau mengamati kinerja mereka, mendengar apa yang mereka katakan, dan menggunakan indera mereka seperti melihat, mendengar, menyentuh, mencium, dan merasakan.
Menurut Zainul dan Nasution (2001) pengukuran memiliki dua karakteristik utama yaitu, penggunaan angka atau skala tertentu, dan menurut suatu aturan atau formula tertentu.
Measurement (pengukuran) merupakan proses yang mendeskripsikan performance siswa dengan menggunakan suatu skala kuantitatif (system angka) sedemikian rupa sehingga sifat kualitatif dan performance siswa tersebut dinyatakan dalam angka-angka (alwasilah et al.1996). pernyataan tersebut diperkuat dengan pendapat yang menyatakan bahwa pengukuran merupakan pemberian nilai angka terhadap suatu atribut atau karakter tertentu yang dimiliki oleh seseorang atau atribut tertentu yang mengacu pada aturan dan formulasi yang jelas.
Berdasarkan beberapa pengertian tentang pengukuran yang dikemukakan di atas, dapat di kemukakan bahwa pengukuran adalah suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuantitas “sesuatu”. Kata “sesuatu” bisa diartikan sebagai peserta didik, guru, gedung sekolah, meja belajar, papan tulis, dan sebagainya. Dalam proses pengukuran, tentunya guru harus menggunakan alat ukur (tes atau non-tes), alat ukur tersebut harus standar, yaitu memiliki derajat validasi dan reliabilitas yang tinggi. Dalam sejarah perkembangannya, aturan mengenai pemberian angka ini didasarkan pada teori pengukuran psikologis yang dinamakan psychometric. Namun demikian, boleh saja suatu kegiatan evaluasi dilakukan tanpa melalui proses pengukuran.

B. PENILAIAN

Istilah penilaian merupakan alih bahasa dari istilah assessment, bukan dari istilah evaluation. Depdikbud (1994) mengemukakan bahwa “penilaian adalah suatu kegiatan untuk memberikan berbagai informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh tentang proses dan hasil yang telah dicapai oleh siswa”. Kata “menyeluruh” mengandung arti bahwa penilaian tidak hanya ditunjukkan pada penguasaan salah stu bidang tertentu saja, tetapi mencangkup aspek pengetahuan, ketrampilan, sikap, dan nilai-nilai.
Gronlund mengartikan “penilaian adalah suatu proses yang sistematis dari pengumpulan, analisis, dan interpretasi informasi atau data untuk menentukan sejauh mana peserta didik telah mencapai tujuan pembelajaran”.
Sementara itu Anthony J. Nitcko (1996) menjelaskan “assessment is a broad term defined as a process for obtaining information that is used for making decisions about students, curricula and programs, and educational policy”. (penilaian adalah suatu proses untuk memperoleh informasi yang digunakan untuk membuat keputusan tentang peserta didik, kurukulum, program, dan kebijakan pendidikan).
Penilaian adalah usaha untuk memeriksa persesuaian (congruence) antara tujuan-tujuan pendidikan yang diinginka, dan hasil belajar yang telah dicapai. Oleh karena tujuan pendidikan menyangkut tentang perubahan perilaku yang diinginkan pada peserta didik, maka penilaian dimaksudkan untuk memeriksa sejauh mana perubahan-perubahan yang diinginkan tersebut telah dicapai.
Dalam KTSP dijelaskan bahwa pengertian penilaian adalah proses sistematis meliputi pengumpulan informasi (angka, deskripsi verbal), analisis, interpretasi informasi untuk membuat keputusan.
Dapat disimpulkan bahwa penilaian adalah suatu proses atau kegiatan yang sistematis dan berkesinambungan untuk mengumpulkan informasi tentang proses dan hasil belajar peserta didik dalam rangka membuat keputusan-keputusan berdasarkan kriteria dan pertimbangan tertentu. Keputusan yang dimaksud adalah keputusan tentang peserta didik, seperti nilai yang akan diberikan atau juga keputusan tentang kenaikan kelas dan kelulusan.
Keputusan penilaian terhadap suatu hasil belajar sangat bermanfaat  membantu peserta didik untuk merefleksikan apa yang mereka ketahui, bagaimana mereka belajar, dan mendorong tanggung jawab dalam belajar. Keputusan penilaian dapat dibuat oleh guru, sesame peserta didik (peer), atau oleh dirinya sendiri (self-assessment). Pengambilan keputusan harus dapat membimbing peserta didik untuk melakukan perbaikan hasil belajar.
Dalam melakukan penilaian diperlukan suatu perangkat alat penilaian yang tepat. Tanpa adanya perangkat alat penilaian yang tepat, maka penentuan terhadap tinggi rendahnya tingkat kemampuan siswa semata-mata akan didasarkan atas kesan dan dugaan pada hasil semata, dan bukan atas data hasil penilaian mulai proses awal hingga dihasilkannya sebuah karya siswa.
Menurut Kellough dan Kellough dalam swearingen (2006) tujuan penilaian adalah untuk membantu belajar peserta didik, mengidentifikasikan kekuatan dan kelemahan peserta didik, menilai efektivitas strategi pembelajaran, menilai dan meninakatkan efektivitas program kurikulum, menilai dan meningkatkan efektivitas pembelajaran, menyediakan data yang membantu dalam membuat keputusan, komunikasi, dan melibatkan orang tua peserta didik.
Sementara itu, Chittenden (1994) mengemukakan tujuan penilaian (assessment purpose) adalah “keeping track, checking-up, finding-out, and summing-up”.
1.      Keeping track, yaitu untuk menelusuri dan melacak proses belajar peserta didik sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah ditetapkan.
2.      Checking-up, yaitu untuk mengecek ketercapaian kemampuan peserta didik dalam proses pembelajaran dan kekurangan-kekurangan peserta didik selama mengikuti prpses pembelajaran.
3.      Finding-out, yaitu untuk mencari, menemukan, dan mendeteksi kekurangan, kesalahan, atau kelemahan peserta didik dalam proses pembelajaran sehingga guru dapat dengan cepat mencari alternative solusinya.
4.      Summing-up, yaitu untuk menyimpulkan tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah diterapkan. Hasil penyimpulan ini dapat digunakan guru untuk menyusun laporan kemajuan belajar ke berbagai pihak yang bekepentingan.

C.  EVALUASI

Menurut Guba dan Lincoln (1985 : 35) mendefinisikan evaluasi sebagai “a process for describing an evaluand and judging its merit and wroth”. (evaluasi adalah suatu proses untuk menggambarkan evaluan (orang yang dievaluasi) dan menimbangnya dari segi nilai dan arti).
Menurut Sax (1980 : 18) berpendapat bahwa “evaluation is a process through which a value judgement or decision is made from a variety of observations and from the background and training of the evaluator”. (evaluasi adalah suatu proses dimana pertimbangan atau keputusan suatu nilai dibuat dari berbagai pengamatan, latar belakang, serta pelatihan dari evaluator).
Dari dua rumusan tentang evaluasi ini, dapat kita peroleh gambaran bahwa evaluasi adalah suatu proses yang sistematis dan berkelanjutan untuk menentukan kualitas (nilai dan arti) dari sesuatu berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu untuk membuat suatu keputusan. Berdasarkan pengertian ini, ada beberapa hal yang perlu dipahami, yaitu :
1.      Evaluasi adalah suatu proses bukan suatu produk (hasil).
Hasil yang diperoleh dari kegiatan evaluasi adalah kualitas sesuatu, baik yang menyangkut tentang nilai atau arti. Sedangkan kegiatan untuk sampai pada pemberian nilai dan arti itu adalah evaluasi.
2.      Tujuan evaluasi adalah untuk menentukan kualitas sesuatu, terutama yang berkenaan dengan nilai dan arti.
S. Hamid Hasan (1998) secara tegas membedakan kedua istilah tersebut sebagai berikut :
Pemberian nilai dilakukan apabila seorang evaluator memberikan pertimbangannya mengenai evaluan tanpa menghubungkannya dengan sesuatu yang bersifat dari luar. Jadi, pertimbangan yang diberikan sepenuhnya berdasarkan pada evaluan itu sendiri.
Sedangkan arti, berhubungan dengan posisi dan peranan evaluan dalam suatu konteks tertentu. Tentu saja kegiatan evaluasi yang komprehensif adalah yang meliputu baik proses pemberian keputusan tentang nilai  dan proses keputusan tentang arti, tetapi hal ini tidak berarti bahwa suatu kegiatan evaluasi harus selalu meliputu keduanya.
3.      Dalam proses evaluasi harus ada pemberian pertimbangan (judgement).
Pemberian pertimbangan ini pada dasarnya merupakan konsep dasar evaluasi. Melalui pertimbangan inilah ditentukan nilai dan arti atau makna (worth and marit) dari sesuatu yang sedang dievaluasi. Tanpa pemberian pertimbangan, suatu kegiatan bukanlah termasuk kategori kegiatan evaluasi.
4.      Pemberian pertimbangan tentang nilai dan arti haruslah berdasarkan kriteria tertentu. Tanpa criteria yang jelas, pertimbangan  nilai dan artiyang diberikan bukanlah suatu proses yang dapat diklasifikasikan sebagai evaluasi. Criteria yang digunakan dapat saja berasal  dari apa yang dievaluasi itu sendiri (internal), tetapi juga bisa berasal dari luar apa yang dievaluasi (eksternal).

Secara umum, tujuan evaluasi pembelajaran adalah untuk mengetahui efektifitas proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Indikator efektifitas dapat dilihat dari perubahan tingkah laku yang diharapkan sesuai dengan kompetensi, tujuan, dan isi program pembelajaran. Tujuan evaluasi secara khusus adalah untuk :
1.      Mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah ditetapkan.
2.      Mengetahui kesulitan-kesulitan yang dialami peserta didik dalam proses belajar, sehingga dapat dilakukan diagnosis dan kemungkinan memberikan remedial teaching.
3.      Mengetahi efisiensi dan efektifitas strategi pembelajaran yang digunankan guru, baik yang menyangkut metode, media, maupun sumber-sumber belajar.

Adapun fungsi evaluasi adalah :
1.      Secara psikologis, peserta didik perlu mengetahui prestasi belajarnya, sehingga ia merasakan kepuasan dan ketenangan. Untuk itu guru perlu melakukan penilaian terhadap prestasi belajar peserta didiknya.
2.      Secara sosiologis, untuk mengetahui apakah peserta didik sudah cukup mampu untuk terjun ke masyarakat. Mampu dalam arti dapat berkomunikasi dan beradaptasi debgan seluruh lapisan masyarakat dngan segala karakteristiknya.
3.      Menurut didaktis-metodis, evaluasi berfungsi untuk membantu guru dalam menempatkan peserta didik pada kelompok tertentu sesuai dengan kemampuan dan kecakapan masing-masing.
4.      Untuk mengetahui kedudukan peserta didik diantara teman-temannya, apakah ia termasuk anak yang pandai, sedang, atau kuarang.
5.      Untuk mengetahui taraf kesiapan pesrta didik dalam menempuh program pendidikannya.
6.      Untuk membantu guru dalam memberikan bimbingan dan seleksi, baik dalam rangka menentukan jenis pendidikan, jurusan, maupun kenikan tingkat atau kelas.
7.      Secara administrative, evaluasi berfungsi untuk memberikan laporan tentang kemajuan peserta didik kepada pemerintah, pimpinan atau kepala sekolah, guru, dan termasuk peserta didik itu sendiri.


D.   KETERKAITAN ANTARA PENGUKURAN, PENILAIAN, DAN EVALUASI

Tes, pengukuran, penilaian, dan evaluasi, masing-masing saling mempunyai kerkaitan. Berdasarkan pengertian tentang tes, pengukuran, penilaian, dan evaluasi yang telah dikemukakan diatas, dapat disimpulkan bahwa ada jenis evaluasi atau penilaian yang mempergunakan tes secara intensif sebagai alat pengumpulan data, seperti penilaian hasil belajar. Walaupun dalam perkembangan terakhir tentang jenis evaluasi atau penilaian seperti ini menunjukkan bahwa tes bukan satu-satunya alat pengumpul data. Meskipun demikian, harus diakui pula bahwa tes merupakan alat pengumpul data evaluasi dan penilaian yang paling tua dan penting. “….tes bukanlah evaluasi, bahkan bukan pula pengukuran . tes lebih sempit ruang lingkupnya disbanding pengukuran, dan pengukuran lebih sempit ruang lingkupnya dibandingkan dengan evaluasi” (Ahmann dan Glock, Mehrens dan Lehmann, McKormick dan James, dalam S. Hamid hasan, 1998).
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa tes dibangun berdasarkan teori pengukuran tertentu. Tanpa bantuan teori pengukuran, maka pembuatan tes dapat dikatakan tidak mungkin. Bagaimana pertanyaan-pertanyaan dalam tes harus dibuat, validasi dan reabilitas tes yang pada saat sekarang diukur berdasarkan teori Psychometric, mencerminkan peranan teori pengukuran yang sangat besar dan penting. Pengukuran dala psykometrik tidak lagi merupakan suatu langkan yang selalu harus ditempuh dalam kegiatan evaluasi. Pengukuran hanya merupakan salah satu langkah yang mungkin dipergunakan dalam kegiatan evaluasi.
Perlu dipahami bahwa dalam praktek acapkali terjadi karancuan atau tumpang tindih (overlap)dalam penggunaan istilah “evaluasi”,”penilaian”,dan”pengukuran”. Pengukuran yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan measurement dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan untuk mengukur sesuatu. Mengukur pada hakikatnya adalah membandingkan sesuatu dengan atau atas dasar ukuran tertentu. Pengukuran yang bersifat kuantitatif itu,dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :
1.      Pengukuran yang dilakukan bukan untuk menguji sesuatu:misalnya;pengukuran yang dilakukan oleh penjahit pakaian mengenai panjang lengan,panjang kaki,lebar bahu,ukuran pinggang dan sebagainya.
2.      Pengukuran yang dilakukan untuk menguji sesuatu;misalnya:pengukuran untuk menguji daya tahan per baja terhadap tekanan berat,pengukuran untuk menguji daya tahan nyala lampu pijar,dan sebagainya.
3.      Pengukuran untuk menilai,yang dilakukan dengan jalan menguji sesuatu. Misalnya : mengukur kemajuan belajar peserta didik dalam rangka mengisi nilai rapor yang dilakukan dengan menguji mereka dalam bentuk tes hasil belajar. Pengukuran jenis ketiga inilah yang biasa dikenal dalam dunia pendidikan.

“Penilaian” berarti menilai sesuatu. Sedangkan menilai itu mengandung arti:mengambil keputusan terhadap sesuatu dengan mendasarkan diri atau berpegang pada ukuran baik atau buruk, sehat atau sakit, pandai atau bodoh dan sebagainya. Jadi penilaian itu sifatnya adalah kualitatif.
Sedangkan “evaluasi” adalah mencakup dua kegiatan yang telah dikemukakan terdahulu, yaitu mencakup ”pengukuran” dan ”penilaian”. Evaluasi adalah kegiatan atau proses untuk menilai sesuatu. Untuk dapat menentukan nilai dari sesuatu yang sedan dinilai itu, dilakukan pengukuran ,dan wujud dari pengukuran itu adalah pengujian, dan pengujian inilah yang dalam dunia kependidikan dikenal dengan istilah tes.
Di atas telah dikemukakan bahwa pengukuran itu adalah bersifat kuantitatif : hasil pengukuran itu berwujud ketrangan-keterangan yang berupa angka-angka atau bilangan-bilangan. Adapun evaluasi adalah bersifat kualitatif : evaluasi pada dasarnya adalah merupakan penafsiran atau interpretasi yang sering bersumber pada data kuantitatif. Dikatakan sering bersumber pada data yang bersifat kuantitatif, sebab sebagaimana dikemukan oleh Prof. Dr. Masroen, M.A (1979) tidak semua penafsiran itu bersumber dari keterangan-keterangan yang bersifat kuantitatif. Sebagai contoh dapat dikemukakan disini, Misalnya keterangan-keterangan mengenai hal-hal yang disukai siswa, pengalaman-pengalaman masa lalu, dan lain-lain, yang kesemuanya itu tidak bersifat kuantitatif melainkan bersifat kualitatif.
Lebih lanjut Masroen menegaskan bahwa istilah penilaian (setidak-tidaknya dalam bidang psikologi dan pendidikan) mempunyai arti yang lebih luas ketimbang istilah pengukuran, sebab pengukuran itu sebenarnya hanyalah merupakan suatu langkah atau tindakan yang kiranya perludiambil dalam rangka pelaksanaan evaluasi. Dikatakan “kiranya perlu diambil” sebab tidak semua penilaian itu harus senantiasa didahului oleh tindakan pengukuran secara lebih nyata.
Menurut Masroen, pada umumnya para pakar di bidang pendidikan sependapat, bahwa evaluasi mengenai proses embelajaran di sekolah tidak mungkin dapat dilaksanakan secara baik apabila evaluasi itu tidak didasarkan atas data yang bersifat kuantitatif. Inilah sebabnya mengapa dalam praktek, masalah pengukuran mempunyai kedudukan yang sangat penting di dalam proses evaluasi. Baik buruknya evaluasi akan banyak bergantung pada hasil-hasil pengukuran yang mendahuluinya. Hasil pengukuran yang kurang cermat akan memberikan hasil evaluasi yang kurang cermat pula, sebaliknya teknik-teknik pengukuran yang tepat dapat diharapkan akan memberikan landasan yang kokoh untuk mengadakan evaluasi yang tepat. Kenyataan-kenyataan inilah yang acapkali menimbulkan adanya kerancuan dan tumpang tindih, antara istilah evaluasi, penilaian, dan pengukuran.
Akhirnya dalam rangka lebih mempertegas perbedaan antara pengukuran (measurement) dengan penilaian (evaluation) Wandt dan Brown (1977) mengatakan bahwa: “measurement means the act or process of exestaining the extent or quantity of something”. Pengukuran adalah suatu tindakan atau proses untuk menentukan luas atau kuantitas dari sesuatu ; ia akan memberikan jawab atas pertanyaan : How much?Adapun penilaian atau evaluasi yang menurut Wandt dan Brown didefinisikan sebagai tindakan atau proses untuk menentukan nilai dari sesuatu itu,akan memberikan jawab atas pertanyaan : What value

E.    PRINSIP EVALUASI

Untuk memperoleh hasil evaluasi yang lebih baik, maka kegiatan evaluasi harus bertitik tolak dari prinsip-prinsip umum evaluasi (Drs. Zainal Arifin, M.Pd dalam bukunya Evaluasi Pembelajaran, cetakan ke 2 edisi revisi, Juli 2012) sebagai berikut :
1.      Kontinuitas
Evaluasi tidak boleh dilakukan secara incidental, karena pembelajaran itu sendiri adalah suatu proses kontinu. Oleh sebab itu, evaluasi pun harus dilakukan secara kontinu. Hasil evaluasi yang diperoleh dari suatu waktu harus senantiasa dihubungkan dengan hasil-hasil pada waktu sebelumnya, sehingga dapat diperoleh gambaran yang jelas dan berarti tentang perkembangan peserta didik. Perkembangan belajar peserta didik tidak dapat dilihat dari dimensi produk saja, tetapi juga dimensi proses bahkan dari dimensi input.
2.      Komperhensif
Dalam melakukan evaluasi terhadap suatu objek, guru harus mengambil seluruh objek itu sebagai bahan evaluasi.
3.      Adil dan Objektif
Dalam melaksanakan evaluasi, guru harus berlaku adil tanpa pilih kasih. Kata “adil” dan “objektif” memang mudah untuk diucapkan, tetapi sulit untuk dilaksanakan. Meskipun demikian, kewajiban manusia adalah harus tetap berikhtiar. Semua peserta didik harus diperlakukan sama tanpa “pandang bulu”. Guru juga hendak bersifat secara objektif, apa adanya sesuai dengan kemampuan peserta didik. Evaluasi harus didasarkan atas kenyataan (data dan fakta) yang sebenarnya, bukan hasil manipulasi atau rekayasa.
4.      Kooperatif
Dalam kegiatan evaluasi guru hendaknya bekerja sama dengan semua pihak, seperti orang tua peserta didik, sesama guru, kepala sekolah, termasuk dengan pihak peserta didik itu sendiri. Hal ini dimaksudkan agar semua pihak merasa puas dengan hasil evaluasi, dan pihak-pihak tersebut merasa dihargai.
5.      Praktis
Praktis mengandung arti mudah digunakan, baik oleh guru itu sendiri yang menyusun alat evaluasi maupun orang lain yang akan menggunakan alat tersebut. Untuk itu harus diperhatikan bahasa dan petunjuk mengerjakan tugas.

Dalam konteks penilaian hasil belajar, Depdiknas (2003) mengemukaan prinsip-prinsip umum penilaian adalah mengukur hasil-hasil belajar yang telah ditentukan dengan jelas dan sesuai dengan kompetensi serta tujuan pembelajaran : mengukur sampel tingkah laku yang representative dari hasil belajar dan bahan-bahan yang tercangkup dalam pengajaran ; jenis-jenis instrument penilaian yang paling sesuai untuk mengukur hasil belajar yang diinginkan ; direncanakansedemikian rupa agar hasilnya sesuai dengan yang digunakan secara khusus ; dibuat dengan reabilitas yang sebesar-besarnya dan harus ditafsirkan secara hati-hati ; dan dipakai untuk memperbaiki proses dan hasil belajar.
Di samping itu, guru harus memperhatikan hal-hal teknis, antara lain :
1.      Penilaian hendaknya dirancang sedemikian rupa, sehingga jelas abilitas yang harus dinilai, materi yang hrus dinilai, alat penilaian dan interpretasi hasil penilaian
2.      Penilaian harus menjadi bagian integral dalam proses pembelajaran
3.      Untuk memperoleh hasil yang objektif, penilaian harus menggunakan berbagai alat (instrumen), baik yang berbentuk tes maupun non-tes.
4.      Pemilihan alat penilaian harus sesuai kompetensi yang ditetapkan
5.      Alat penilaian harus mendorong kemampuan penalaran dan kretifitas peserta didik, proyek, dan portofolio
6.      Objek penilaian harus mencangkup aspek pengetahuan, ketrampilan, sikap, dan nilainilai
7.      Penilaian harus mengacu pada prnsip diferensiasi, yaitu memberikan peluang kepada peserta didik untuk menunjukkan apa yang diketahui, apa yang dipahami, dan apa yang harus dilakukan
8.      Penilaian tidak bersifat diskriminatif, artinya guru harus bersikap adil dan bersikap jujur kepada semua peserta didik, serta bertanggung jawab kepada semua pihak
9.      Penilaian harus diikuti dengan tindak lanjut (follow-up)
10.  Penilaian harus beorientasi pada kecakapan hidup dan bersifat mendidik.

F.  LANGKAH-LANGKAH PENILAIAN

Tyler dan Cronbach lebih mengarahkan peranan penilaian pada tujuan untuk memperbaiki kurikulum atau system pendidikan. Langkah-langkah penilaiannya adalah sebagai berikut :
1.      Merumuskan atau mempertegas tujuan.
2.      Menetapkan test situation yang diperlukan.
3.      Menyusun alat penilaian.
4.      Menggunakan hasil penilaian.
Berhubun setiap system pendidikan memiliki berbagai tujuan yang ingin dicapainya, akan lebih tepat jika hasil penilaian tidak dinyatakan dalam bentuk hasil keseluruhan tes, melainkan dalam bentuk hasil bagian demi bagian dari tes yang bersangkutan.

1.      Penetapan Indikator Pencapaian Kompetensi
Indikator merupakan ukuran, karakteristik, ciri-ciri, pembuatan, atau proses yang berkontribusi ketercapaian suatu kompetensi dasar. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur, seperti: mengidentifikasi, menghitung, membedakan, menyimpulkan, dan mendeskripsikan.
Indikator pencapaian kompetensi dikembangkan oleh guru dengan memperhatikan perkembangan dan kemampuan peserta didik. Setiap kompetensi dasar dapat dikembangkan menjadi dua atau lebih indikator pencapaian kompetensi.
Contoh penetapan indikator
Standar kompetensi
Kompetensi dasar
Indikator pencapaian
Mempraktikkan keterampilan rangkaian senam lantai dan nilai yang terkandung di dalamnya
Mempraktikkan serangkaian senam lantai tanpa alat serta nilai percaya diri,kerja sama dan tanggung jawab
1.      Melakukan 2 jenis rangkaian geraksenam lantai dengan percaya diri
2.      Menjelaskan nilai  yang terkandung dalam rangkaian gerakan senam
3.      Dst.

2.      Pemetaan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator
Dilakukan untuk memudahkan guru dalam menentukan teknik penilaian.
3.      Penetapan Teknik Penilaian
Dalam memilih teknik penilaian mempertimbangkan ciri indikator, contoh;
·         Apabila tuntutan indikator melakukan sesuatu, maka teknik penilaiannya adalah untuk kerja (performance)
·         Apabila tuntutan indikator berkaitan dengan pemahaman konsep, maka teknik penilaiannya adalah tertulis.
·         Apabila tuntutan indikator memuat unsur penyelidikan, maka teknik penilaiannya adalah proyek.


BAB III
SIMPULAN DAN SARAN


A.  SIMPULAN

Untuk menevaluasi keberhasilan program pembelajarn tidak cukup hanya dengan mengadakan penilaian terhadap hasil belajar peserta didik sebagai produk dari sebuah pembelajaran. Kualitas suatu produk pembelajarn tidak terlepas dari kualitas pembelajaran itu sendiri.
Evaluasi pembelajarn tidak terlepas dari tes, penilaian, dan pengukuran. Evaluasi bertujuan untuk mengetahui efektifitas proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Indicator efektifitas dapat dilihat dari perubahan tingkah laku yang diharapkan sesuai dengan kompetensi, tujuan, dan isi program pembelajaran. Tujuan evaluasi secara khusus adalah untuk :
1.      Mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah ditetapkan.
2.      Mengetahui kesulitan-kesulitan yang dialami peserta didik dalam proses belajar, sehingga
3.      dapat dilakukan diagnosis dan kemungkinan memberikan remedial teaching.
4.      Mengetahi efisiensi dan efektifitas strategi pembelajaran yang digunankan guru, baik yang menyangkut metode, media, maupun sumber-sumber belajar.

B. SARAN

Untuk melakukan evaluasi pendidikan sebaiknya memperhatikan beberapa aspek penting dalam evaluasi, antara lain pengukuran dan penilaian, dan juga dalam melakukan evaluasi harus dilakukan secara berkelanjutan. Evaluasi hendaknya dilakukan berdasarkan kenyataan di lapangan agar tujuan evaluasi dapat tercapai. Dengan adanya evaluasi diharapkan system pendidikan menjadi lebih baik.


CERPENKU................



ROTI BAKAR



Kring kring ada sepeda....
Sepedaku roda dua....
Ku dapat dari Bunda....
Karena rajin bekerja....
Suara alarm mengagetkan tidurku. Aku langsung tersadar dalam mimpiku yang panjang yang telah menemani malamku. Ku lihat jam bekerku dan langsung ku matikan alarmnya.
“Ya ampuuuunn..... Hari ini kan awal aku masuk ke sekolah baruku!!!”, teriakku kaget.
Perkenalkan... Aku Dara. Nama lengkapku Dara Aisya. Aku baru saja lulus SD. Hari ini awal mulaku menginjakkan kaki di SMP baruku, khususnya di SMPN 1 Jakarta.
“Dara!! Ayo cepet sarapan. Makanan tlah siap saji”, teriak mama kepadaku.
Aku langsung bergegas menuju ruang makan. Karna tak melihat sekeliling jalan, aku tak sengaja menabrak kursi dekat ruang makanku. Kakiku sakit. Mama yang melihatku hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Dara, ni masih jam setengah 7. Belum telat sayang”, ujar mama lembut.
“Iya Ma.... Tapi kan hari ini ada MOS Ma. Jam 7 kurang seperempat harus sudah sampai di lapangan”, jawabku sambil membenahi tali sepatuku.
Aku hanya makan 3 sendok dan langsung berpamitan sama mama. Dengan langkah tergesa-gesa, ku kayuh sepedaku dengan cepat. Sesekali di perjalanan ku tengok jam tanganku. Waktu tinggal 3 menit lagi. Ya ampun aku bisa dimarahi habis-habisan sama kakak-kakak OSIS.
Sesampai di sekolah, aku hanya pasrah karena aku tlah terlambat 5 menit. Aku takut. Awalnya aku tak mau menuju gerbang sekolah. tetapi aku berpikir, lebih fatal lagi kalau aku tak jadi masuk, bisa-bisa mama juga ikut memarahiku.
Dengan langkah gugup serta ketakutan, kulewati gerbang sekolah dan aku langsung menuju ke lapangan tempat anak-anak baru berkumpul. Ha!! Aku kaget setengah mati. Gimana enggak.... Semua tlah berbaris dengan rapi dan aku membuyarkan barisan mereka. Karena mereka kaget melihatku baru datang.
“Hey kamu!!!! Sini maju ke depan. Berani sekali kamu terlambat!!!”, salah seorang kakak OSIS membentakku.
Aku hanya menurut saja. Seharusnya ini awal yang menyenangkan. Tetapi semua malah sebaliknya. Aku benar-benar malu dengan teman baruku, apalagi kakak-kakak OSIS yang dari tadi memelototiku. Tanganku gemetaran, rasanya aku pengen buang air kecil.
“Heh!!! Siapa nama kamu!!!”, salah seorang kakak OSIS yang tadi membentakku menanyai namaku.
“Dara Kak....”, jawabku dengan suara gemetaran.
“Heh!!! Siapa??? Gak jelas sekali kamu ngomongnya!!!”, bentak kakak OSIS tadi.
“DARA Kak”, jawabku dengan suara agak keras.
“Oh jadi nama kamu Dara. Enaknya diapain nih???”, ujar kakak tadi dengan muka sinis.
Peserta MOS alias teman-teman baruku juga sangat ketakutan melihatku dibully oleh kakak-kakak OSIS seperti ini. Kakak OSIS yang lain ada yang tertawa, ada juga yang membelaku. Terkadang aku ingin dan berharap aku jauh dari hukuman dan ada kakak yang mau menjadi pahlawanku. Ah,, aku hanya bermimpi yang tak pasti. Mereka semua juga baru mengenalku. Apa daya hendak dikata. Aku hanya terima perlakuan apa yang nanti mereka berikan terhadapku.
Kakak-kakak ini begitu galak terhadapku. Mentang-mentang mereka lebih besar dariku, mereka berani membully adiknya seperti ini. Aku terus mencabuti rumput-rumput lapangan, walaupun hatiku sebal dan rasa benciku dengan kakak OSIS semakin bertambah. “Uhhhhhh”, gumamku.
“Heh kamu!!!!”.
Suara itu mengagetkanku. Kualihkan wajahku ke arah suara itu. Terlihat muka sinis dan wajahnya yang agak menyeramkan. Ya itu salah satu kakak OSIS di SMP ku. Ku tengok papan namanya yang bertulis Andriansyah Ferdian.
“A...a...a...ada apa Kak?”, kataku dengan keringatku yang bercucuran karena mentari tlah membakar kulitku dari tadi.
“Nih”, ujar kak Andri dengan menyodorkan minuman segar kepadaku.
Kaget bukan kepalang. Apa maksudnya? Aku hanya bertanya-tanya dalam hati. Di satu sisi aku sangat senang, tetapi di sisi lain aku masih membencinya. Gimana tidak? Mereka semua mempermalukanku habis-habisan hari ini.
Ku lihat wajah kak Andri. Dari muka sinis berubah menjadi senyuman indah dan berlalu begitu saja. Hanya sekian detik aku merasakannya. Ya memang wajah kak Andri terlihat manis jika ia tersenyum. Rupanya bak Lee Min Ho, cakeeep abis. Kak Andri masih sibuk mengurusi anak-anak MOS lainnya. Tetapi hatiku berdebar tak karuan. Ah ada apa dengan diriku? Aku masih terlalu kecil untuk memahami apa yang ku rasakan.
­­­­­­             ___________________________________________________       
Ku dekap boneka kesayanganku dan aku terus bertanya tentang kejadian tadi. Aku hanya bertanya sendiri. Ku curahkan rasa kebingunganku pada boneka kesayanganku. Tetapi dia tak menjawab. Hanya tersenyum dan melihatku saja. Ah memang namanya aja juga boneka, mana bisa bicara.
“Kak Andri, kenapa kak Andri membuatku deg-degan. Ah kenapa aku?”, gumamku.
            Ku buka handphoneku. Aku ingin membuka facebookku, ingin kutulis curahan hatiku di sana. Entah siapa yang membacanya. Eh ada satu pesan untukku. Siapa dia?
            Kaget bukan main. Ternyata kak Andri yang meng-inbox-ku. Ya ampun darimana kak Andri tahu kalau itu fb aku? Aku bingung dan benar-benar bingung. Aku terus bertanya-tanya. Hanya tertera tulisan “Hay, kamu Aisya kan?”. Kenapa kak Andri memanggilku Aisya. Kenapa gak Dara aja. Kadang aku merasa benci dengan panggilan itu. Entah aku tak tau.
            Ku gerakkan jemariku dan hasilnya “Ia kak, ni kak Andri kan?”. Sebenarnya aku malu sekali membalas pesan dari kak Andri. Tapi apa boleh buat, nanti bisa-bisa aku dikira sombong jika tak menghiraukannya. Hehehe aku ingin jadi adik kelas yang baik.
            Ku tunggu balasannya, tapi apa setelah ku tengok fb kak Andri “aktif sekitar 15 menit yang lalu”. Kak Andri tlah off. Ya mungkin besok atau besoknya lagi, kak Andri bakal membalas balasanku biar ada timbal baliknya. Bisa dibilang biar biimplikasi bak teorema jika dan hanya jika. Aku bales dia, dia juga bales pesenku. Itu sih harapan kecilku saja. Ya kan yang mulai duluan juga dirinya. Bukan aku....
                        _____________________________________________________
            MOS hari kedua tetap aja ada bully-bullyan. Untung saja bukan aku lagi yang jadi bahan ejekan. Tetapi aku juga merasa iba dengan teman-temanku yang bernasib sama seperti aku kemarin. Tak ku sadari pulpenku jatuh, aku sama sekali tak menggubrisnya.
“Dara! pulpen kamu jatuh tuh. Dara! Dara!” teriak teman di sampingku, namanya Mika dengan kacamatanya yang besar dan wajahnya yang imut-imut lucu.
“Eh ada apa Mik?”, jawabku setengah kaget. Entah aku tadi tlah berkhayal apa. Atau terlalu mendalami puisi yang dibacakan oleh kak Andri di depan adik-adiknya ini ya.
“Ah kau nie. Malah nglamun coba. Nih pulpenmu jatuh. Aku kasih tau dari tadi, kamu diam aja”, sambil menyodorkan pulpen ke arahku.
            Aduh Mika maaf banget ni. Abis puisi kak Andri bagus banget. Terenyuh aku mendengarnya. Intinya tentang arti persahabatan. Sahabat takkan terlupa walau kita dihadapi jalan berliku. Ah indah banget kata-katanya.
“Aisya!!”, teriak orang di belakangku.
Hah ada orang yang memanggilku Aisya. Apa mungkin itu kak Andri. Langsung ku tengok belakang. Sebuah senyuman manis dilontarkan untukku. “Idih kak Andri”, batinku.
Kak Andri menghampiriku. Dia memberiku roti kesukaannya. Kak Andri bercerita banyak tentang roti kesukaannya itu. Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
“Kak, darimana Kakak tau fbku?”, tanyaku.
“Oh yang itu.... Aku hanya lihat-lihat saja dan aku nemuin fbmu. Mana aku lupa wajahmu yang manis ni”, jawab kak Andri sambil senyum-senyum.
Aku hanya tersipu malu. Kak Andri ngatain aku manis. Semanis apa kak? Apakah semanis gula? Pikiranku makin melayang tak tau ke mana. Aku makin penasaran dengan kak Andri. Aku ingin slalu ada di dekatnya, walaupun itu hanya sekedar teman biasa. Aku juga tak pernah menginginkan sesuatu yang besar untuk kak Andri menganggapku apa. “Kan aku masih kecil”, batinku sambil tersenyum.
Tak ku sangka. Aku tlah berjalan berkeliling gedung sekolah berdua dengan kak Andri. Ya ampun aku PD sekali. Aku tlah bertanya macam-macam. Mulai dari siapa kepala sekolahnya, berapa ruangan kelasnya, sampai kapan awal mula sekolah didirikan. Emang ini sekolah rakyat yang ada sejarahnya karena dibangun pada zaman penjajahan. Tapi kan semua sekolah pasti ada riwayat hidupnya sendiri. Eh maksudku SEJARAHNYA SENDIRI.
Kak Andri terus menjawab dengan serius sambil diselingi candaan kecil-kecilan yang sudah membuatku tertawa cekikikan. Biarpun candaan kak Andri kalau orang lain mendengarnya belum tentu lucu tetapi bagiku lucu 100%. Sepertinya dari muka kak Andri yang ku lirik, dia sangat senang tlah berhasil buatku tertawa. Apa aku yang ke-GR-an??
            _______________________________________________________
Hari ini terakhir MOS. Bisa dikatakan ini malam perpisahan. Bukan perpisahan karena mau meninggalkan sekolah tetapi ini malah sebaliknya. Malam inagurasi mungkin namanya. Setiap anak baru boleh menampilkan bakat mereka. Aku juga ingin tampil. Tapi ngapain ya?
“Tepuk tangan dulu dong buat band sekolah kita!!!”, teriak pembawa acara dengan semangat. Suara tepukan semakin ramai. Aku juga penasaran siapa sih band sekolah itu.
            Hah kak Andri! Kak Andri kenapa harus kak Andri lagi. Kak Andri hebat. Dia bisa segalanya. Bisa dikatakan perfect. Suara kak Andri merdu. Gak ada satu nadapun yang fals. Lagunya seakan hidup jika dibawakan oleh kak Andri. Aku malah senyum-senyum gak jelas. Tak ku hiraukan orang di sampingku menganggapku apa. Tetapi suara kak Andri tlah membuat hatiku seakan bersinar. Oh no! Lebay sekali aku. Hahaha
“Dara, kak Andri suaranya bagus banget ya”, ujar Mika kepadaku sambil senyum-senyum gemes.
“Iya lah. Kalau gak bagus bukan kak Andri namanya”, jawabku.
            Sepertinya Mika juga ngefans berat dengan kak Andri. Ada rasa tak suka di hati. Apa mungkin aku iri atau aku jealous. Gak mungkin lah. Aku hanya sekedar ngefans juga ma kak Andri. Aku memang menyukai sosok kak Andri karena yang lain, bukan suka dalam artian cinta.
            Cinta? Apa sih itu cinta? Aku bertanya-tanya pada bonekaku, tapi dia cueknya bukan main. Ku slalu teringat wajah kak Andri, senyumnya pula. Aku juga ingat suaranya dan aku ingat lagu yang dibawakannya “Satu Bintang by Antique”. Ku buka fbku, dan ciaaaa, di berandaku ada status kak Andri “hidup akan berwarna jika kita punya cinta dan cita-cita”. Tak perlu pikir panjang, aku langsung berkomentar. Bisa dibilang akulah komentator paling pertama. Tapi kak Andri gak membalasnya. Padahal yang ku tau dia masih ON. Kenapa? Aku jadi sedih. Dan terkadang aku merasa di php-in. Ah mikir apa sih aku? Mungkin kak Andri masih sibuk browsing yang lain. Mungkin juga kak Andri lagi mencari materi pelajarannya. Siapa tau dia anak rajin.
            Tiba-tiba ada satu pemberitahuan di dinding fbku “Andriansyah juga mengomentari statusnya”. Walaupun tlah berjarak 25 menit tetapi aku girangnya bukan main. Aku tak membalasnya lagi karena mama memanggilku untuk membantu beliau di dapur.
“Ma, acaranya malam ini?”, tanyaku.
“Ya ampun sayang. Ya iya lah malam ini. Kan malam ini ulang tahun kamu sayang”, jawab mama.
            Ya ampun kenapa aku bisa lupa dengan ulang tahunku sendiri. Dan ternyata mama tlah mengundang semua teman-teman SD ku dan juga teman-teman mama serta tetanggaku. Mama tak mengundang teman-teman SMP ku karena mama tak banyak mengenal mereka. Apalagi aku masih murid baru. Mungkin hanya Mika, Lista, dan Ujang yang mama kenal karena mereka temanku dari SD. Yang aku pikirkan saat ini, aku ingin kak Andri datang di hari ulang tahunku. Kak Andri tahu darimana kalau hari ini ulang tahunku jika aku gak kasih tau. Tanggal lahir di profil fb, ku atur hanya saya yang bisa melihatnya. Aku tak membagikannya ke publik. Dan kak Andri pasti tak tahu kalau hari ini hari spesial dan istimewa bagiku.
            Pesta tlah mulai. Para undangan mulai berdatangan dan mengucapkan selamat kepadaku sambil memberiku bingkisan-bingkisan kecil. Aku sangat bahagia, ini ulang tahunku yang ke-13 yang menurutku aku tlah memasuki usia rawan bagi seorang perempuan karena aku tlah memasuki masa remaja. Ya walaupun masih pemula. Meja-meja tertata rapi dan banyak bunga-bunga  di sekelilingku. Tetapi ada satu hal yang membuatnya kurang begitu istimewa, kak Andri tak datang di ulang tahunku. Padahal aku terus menengok kesana kemari tetapi aku tak menemukan sosok yang ku harapkan. Emangnya kak Andri tahu? Dia kan gak dapet undangan.
“Selamat ya Dara. Semoga panjang umur dan sehat slalu”, ujar Mika, Lista dan Ujang serentak sambil cipika cipiki kepadaku kecuali si Ujang, dia kan cowok. Ujang hanya bersalaman denganku saja.
Potong kuenya potong kuenya...............
Potong kuenya sekarang juga.................
Sekarang juga..............
            Sebelum aku potong kue, aku berdoa kepada Tuhan agar di usiaku yang ke-13 ini aku slalu diberi kesehatan dan yang terpenting aku berdoa untuk mama dan papa agar mereka slalu dijaga oleh Tuhan. Ku potong dengan hati-hati dan kubagikan dan spesial yang paling pertama untuk mama dan papa. Andaikan ada wujud kak Andri di sini, aku ingin yang kedua untuknya. Mungkin suatu saat aku bisa memberikan kue ini padanya.
                        _______________________________________________
“Ihhh ultahmu kemarin keren juga ya”, ujar Ujang sambil makan bakso pedas kesukaannya.
“Iya lah. Yang ngatur pesta kan mama ma papa. Pasti keren dong”, jawabku sambil kusibakkan rambut panjangku bak bergaya ala bintang iklan sampo.
“Eh kemaren kamu ultah. Kenapa kamu gak ngomong?”
            Tiba-tiba ada suara misterius di belakangku. Ku pandangi wajahnya. “Kak Andri!!!”, ujarku kaget. Aku hanya bertanya-tanya dalam hati, “Dari kapan kak Andri ada di sini. Perasaan tadi di kursi kantin belakangku hanya ada anak kelas 7 bukan kak Andri”.
            Kak Andri hanya tersenyum dan memberiku ucapan selamat. Mika yang melihatku bersama kak Andri terasa janggal. Sepertinya dia cemburu. Tetapi dia tetap tersenyum melihatku. Sebenarnya di sisi lain aku tak mau melukai sahabatku yang dari SD tlah bersama. Semoga Mika gak menganggap sesuatu ini serius. Aku dan kak Andri hanya sebatas teman walau kadang hatiku berontak. Aku ingin sesuatu yang lebih dari teman. Walau itu kemungkinan kecil sekali jika aku bayangkan. Dan jika ku logika entah true atau false hasilnya.
            Kak Andri pergi meninggalkanku karena ada rapat OSIS mendadak. Ya tak apa lah. Aku berbunga-bunga. Kak Andri mengucapkan selamat untukku.
“Dara, kamu naksir ya ma kak Andri”, tanya Mika tiba-tiba.
“Ha!! Naksir? Ya enggak lah. Kan kamu tau aku menganggap dia kakak dan kita hanya temenan”, jawabku.
            Kenapa sih Mika bertanya seperti ini padaku. Apa mungkin dia kepo sekali ya apa yang ku rasakan. Naksir kak Andri? Aku saja tak berani bilang tentang hal itu. Aku tak berani bilang aku naksir kak Andri. Aku sekedar ngefans sama dia karena dialah satu-satunya kakak OSIS yang berhati mulia. Ah kayak apa aja deh. Atau jangan-jangan Mika yang naksir dengan kak Andri. Biarlah semua orang berhak merasakan apa yang mereka rasakan.
            Sepulang sekolah kak Andri mengajakku ke taman sekolah. Ngapain lagi kesana. Tapi aku nurut-nurut saja. Karena hatiku tlah berhasil dicuri oleh kak Andri. Aha!! Lebay...
            Tiba-tiba kak Andri memberiku setangkai bunga mawar merah. Pikiranku melayang entah kemana. Aku jadi teringat kalau bunga mawar merah adalah tanda cinta, tanda keromantisan. Semuanya hanya bayangan, mungkin kak Andri hanya ingin menghiburku dengan setangkai bunga atau mungkin ini tanda persahabatan.
            Dengan tangan agak gemetaran, ku terima bunga itu. Aku benar-benar bingung, apa sih maksud kak Andri dari semua ini? Kadang aku takut tuk merasakan sesuatu yang lain, yang mungkin dan seharusnya ini memang sudah waktunya anak seumuranku merasakannya.
“Aisya.... Kamu suka bunganya? Kamu gak tanya, kenapa aku kasih bunga ini ke kamu?”, ujar kak Andri tiba-tiba.
            Jantungku berdegup kencang. Mau mengeluarkan suara saja rasanya berat sekali bak mengangkat tumpukan besi di pundakku. “A...a...a...aku sebenarnya kaget juga Kak. Emang maksud Kakak apa?”, tanyaku dengan muka memerah dan semoga kak Andri tak menyadarinya.
“Kamu tau? Kamu bingung? Tau gak dari semenjak kita ketemu, aku dah merasakan sesuatu yang lain dengan kamu. Aku juga sadar sih kita masih SMP. Kamu juga baru kelas 7 dan aku baru kelas 9. Tetapi tak salahkah aku jika aku menyukaimu? Bisa dikatakan aku cinta sama kamu”, ujar kak Andri dengan nadanya yang sangat halus.
            Hatiku bergejolak tak karuan. Kak Andri kenapa kak Andri ngomong seperti ini denganku? Aku masih terlalu kecil tuk menerima semuanya. Aku hanya bengong melihat kak Andri. Aku tak tau harus jawab apa. Kalau D’Masiv rindu setengah mati, sekarang keadaanku sedang bingung setengah mati. Mama, aku harus bicara apa? Aku harus bagaimana? Aku tak pernah merasakan sesuatu yang lain ini sebelumnya. Apakah ini jatuh cinta pada pandangan pertama. Apa aku harus menjawab “iya Kak aku hargai semuanya dan kita coba jalani dulu aja” atau aku harus menjawab “maaf Kak, aku gak bisa. Aku masih kecil. Belum waktunya seperti ini”. Galau super duper galau. Cita Citata tolong aku. Hibur aku dengan lagu Goyang Dumang-mu.
                        ___________________________________________________
            Semenjak kejadian itu, kak Andri sering menjauhiku. Apa mungkin ya kak Andri marah karena aku tak menjawab perasaannya kepadaku. “Kak Andri, Dara minta maaf. Dara salah. Dara tlah buat Kak Andri sakit hati”, batinku dan rasanya aku ingin menangis.
            Hari demi hari kulalui dengan penuh hati-hati. Sekarang aku tlah jauh dari bayang-bayang kak Andri. Di facebook, di sekolah dan di manapun, aku tak pernah bertemu kak Andri, tak pernah saling menyapa, tak pernah saling bicara. Terkadang hatiku merasa iba, merasa salah. Aku jadi menghina diriku sendiri bukan berarti aku rendah diri. Aku jahat. Ya aku jahat banget. Tetapi kenapa kak Andri begitu cuek denganku. Sebesar apa marah dia.  
            Hari ini Ujian Nasional tlah usai. Dulu aku pernah berpikir, kak Andri menjauhiku karena dia ingin fokus belajar dulu. Dia ingin konsentrasi. Dia tak mau terganggu oleh apapun. Tetapi apa boleh buat, sampai sekarang pun kak Andri tak pernah berjalan ke arahku. Aku pernah berharap kak Andri akan menyapaku, tetapi apa yang aku dapat. Kak Andri berjalan di sampingku tanpa menengok ke arahku satu kali saja. Hatiku sedih. Aku ingin menangis. Bila bertemu dengan bidadari surga, aku ingin mencurahkan rasa sakitku ini kepadanya.
                        ­_______________________________________________
“Dara! Aku ingin banget beli roti bakar di toko Sahara itu. Rasanya enak banget”, ajak Mika kepadaku tiba-tiba.
“Hah? Roti bakar? Gak ada yang lain apa! Aku gak suka. Gak suka banget”, ujarku kesal.
            Roti bakar? Itu kan roti kesukaan kak Andri. Kak Andri juga suka sekali beli di toko itu. Kenapa aku jadi teringat kak Andri. Rasanya hati ini ingin berontak. Kak Andri tega melukaiku. Kak Andri tega menyakitiku. Kak Andri tak menganggapku lagi. Cinta yang keluar dari mulut kak Andri itu hanya omdo belaka tak dari hati dan perasaan yang paling dalam. Bisa dibilang kak Andri gak punya hati.
“Dara! Ayo... Temenin aku aja deh kalo kamu gak suka. Masa aku sendirian di sana? Temenin aku ya ya”, ajak Mika sambil memohon-mohon kepadaku.
“Ia deh, tapi jangan lama-lama ya”, jawabku pelan dan sebenarnya aku tak mau ada hal yang menyangkut tentang kak Andri lagi di hadapanku.
            Dengan langkah gontai, aku mengantar Mika ke toko itu. Rasanya kakiku berat tuk melangkah ke tempat itu. Tetapi apa boleh buat. Aku sayang sahabatku. Aku tak mau dia terluka juga karenaku. Mika tak boleh tau apa yang sebenarnya aku pikirkan. Karena aku ingin melupakannya walaupun itu susah sekali tuk aku hadapi. Padahal kini aku tlah berseragam putih abu-abu. Tetapi rasanya masih terus membekas di lubuk hatiku paling dalam.
            Toko sepi tetapi pintunya masih terbuka. Aneh. Sepertinya penjual lagi sibuk sampai tokonya dibiarkan begini. Apa gak khawatir kalau ada maling. Ya siapa tahu ada maling roti bakar. Mika terus melihat-lihat roti bakar kesukaannya. Ada rasa strawberry, ada rasa melon, ada rasa coklat, banyak banget deh pokoknya. Emang enak sih tetapi semua malah membuatku mengingat kejadian 4 tahun silam yang terasa pedih tuk dijalani. Aku pun kiut berputar-putar melihat roti bakar sambil menunggu si pemilik toko. Ku tengok keluar tetapi tetap tak datang. Aku pun terhenti saat kulihat roti keju di sebelah roti bakar. Kayaknya rasanya enak sekali.
            Tiba-tiba.....
“Mbak mau beli roti yang mana? Roti keju apa roti bakar?”, tanyanya dari belakang.
            Aku kaget. Aku berpikir itulah si pemilik toko yang Mika dan aku tunggu dari tadi. Aku langsung berpaling arah. Wah ternyata si pemilik toko ini bapak yang berjanggut tebal. Agak menyeramkan juga sih. Orangnya pakai kacamata hitam, bajunya hitam pula.
“Eh Bapak, ni Pak teman saya yang mau beli roti Pak. Roti bakar Pak”, jawabku sambil senyum-senyum serta kuberi kode ke Mika karena dia yang ingin beli roti bakar, ya masa aku yang ngomong.
“Oh kamu yang mau beli”, bapak itu langsung melihat ke arah Mika.
            Mika hanya mengangguk tersenyum. Dan tiba-tiba bapak tadi melihat ke arahku lagi.
“Kenapa kamu gak beli Mbak. Ni enak sekali. Kenapa hanya teman kamu yang beli?”, tanya bapak itu kepadaku.
            Aku bingung juga sih. Kenapa si pemilik toko ini memaksa orang yang berkunjung harus membeli rotinya juga. Ya masa aku mau bilang gak suka. Aku hanya menjawab dengan senyuman. Bapak itu tetap memaksaku untuk beli dengan nadanya yang halus dan sedikit agak menghormati. Aku menyenggol tangan Mika berkali-kali karena aku ingin pergi dari toko itu. Tetapi Mika tetap serius memilih roti kesukaannya tanpa memperhatikanku. Mika jadi cuek banget. Dan terkadang mukaku manyun sendiri. Bapak tadi terus mengikutiku dan memaksaku beli. Sebenarnya hatiku sudah dongkol banget. Ingin rasanya aku marah-marah dengan beliau. Tetapi kan aku masih tahu sopan santun. Kesabaran orang tetap ada batasnya. Aku terus menahan amarahku. Tiba-tiba...........
“Mbak Aisya”, terdengar suara lirih dari belakang.
            Kaget bukan kepalang. Siapa yang memanggilku Aisya? Siapa? Aku terus melihat-lihat di sekeliling toko. Tetapi hasilnya nihil. Yang ku tahu hanya Mika dan bapak pemilik toko tadi. Suaranya suara cowok. Masa bapak itu yang memanggilku Aisya? Beliau mengenalku? Dan kenapa panggilan itu persis dengan panggilan orang yang selama ini ingin kulupakan dari kehidupanku.
“Ada apa Mbak Aisya, namanya Aisya kan?”, tanya bapak pemilik toko tadi.
            Aku hanya ternganga tandaku heran kepada beliau. Perasaan aku belum pernah berkenalan dengan bapak ini. Darimana dia tahu? Dan kenapa harus Aisya. aku melamun ke mana-mana. Mika yang melihatku hanya melongo kaget.
            Tiba-tiba..............
            Bapak pemilik toko mendekatiku sambil membisikkan sesuatu, “Mbak penasaran?”. Aku benar-benar takut terjadi sesuatu di luar dugaanku, di luar logikaku. Bapak tadi melepaskan kacamatanya, dan yang tak kusangka, bapak tadi juga melepaskan janggut tebalnya yang ternyata itu hanya mainan belaka. Aku, aku, aku benar-benar gak menyangka
“Aisya, masihkah kau mengenalku?”
            Sosok itu sangat terkenal dalam pikiranku. Sosok kakak OSIS yang kusukai sejak SMP, sejak aku masih menjadi murid baru. “Kak Andri??”, ujarku bahagia dan ku tersenyum terharu. Tak sengaja ku teteskan air mata ini. Aku benar-benar rindu walaupun aku pernah membencinya. Karena sebuah roti bakar, kita bisa bertemu. Mika tersenyum sambil makan roti bakar kesukaannya. Yummy, katanya.

---------------------------------------------- THE END --------------------------------------------

            By : Ihda Afifatun Nuha



                       


           




Thursday, 7 May 2015

GURU PROFESIONAL

Sebagian orang berpendapat, bahwa mengajar adalah proses penyampaian atau mentransfer ilmu dari seorang pendidik kepada peserta didik. Tetapi tampaknya pendapat ini harus jauh-jauh ditinggalkan, karena sudah tidak sesuai dengan perkembangan jaman. Kini mengajar harus kita maknai sebagai sebuah kegiatan yang komplek, yaitu penggunaan secara integratif sejumlah keterampilan untuk menyampaikan ilmu. Pengintegrasian keterampilan-keterampilan yang dimaksud di sini harus dilandasi dengan seperangkat teori dan diarahkan oleh suatu pengetahuan/wawasan. Sedangkan penearapannya akan menjadi unik bila dipengaruhi oleh semua komponen belajar mengajar. Komponen yang dimaksud adalah tujuan yang hendak digapai, ilmu yang ingin disampaikan, seubjek didik, fasilitas dan lingkungan belajar, dan yang tidak kalah penting adalah keterampilan, kebiasaan dan wawasan guru tentang dunia pendidikan dan misinya sebagai pendidik.

Jika mengajar dipahami sebagai kegiatan mentransfer ilmu kepada siswa, maka mengajar itu sendiri hanya akan terbatas pada penyampaian ilmu itu saja. Guru di pihak pertama menyampaiakan ilmu dan siswa di pihak kedua akan menerima secara pasif. Prosesnya pun bisa diketahui, pembelajaran akan berjalan secara membosankan. Karena yang mendominasi pembelajaran adalah guru, sedangkan siswa hanya sebagai penerima.

Namun, apabila mengajar dimaknai sebagai segala upaya yang dilakukan dengan sengaja untuk menciptakan proses belajara pada siswa dan mencapai tujuan yang telah dirumuskan, maka jelas bahwa yang menjadi sasaran akhir dari proses pengajaran itu ialah siswa belajar. Artinya dalam hal ini segala upaya apapun dapat dilakukan selagi bisa dipertanggungjawabkan, dan bisa menghantarkan siswa menuju pencapaian tujuan belajar yang telah dicanangkan, artinya siswa belajar secara aktif, dan yang mendominasi dikelas adalah siswa.

Kesimpulannya, hakekat menjajar itu merupakan usaha guru menciptakan dan mendesain proses belajar pada siswa. Jadi yang terpenting dalam belajar mengajar itu bukanlah bahan yang disampaikan oleh guru, akan tetapi proses siswa dalam mempelajari bahan tersebut (guru lebih menghargai proses dari pada hasil). Sekali lagi peranan yang menonjol dalam belajar mengajar ada pada siswa, ini bukan berarti bahwa peranan guru tersisihkan, hanya diubah saja.

Jadi, guru yang profesional adalah guru yang dapat melakukan tugas mengajarnya dengan baik melalui keterampilan-keterampilan khusus agar tercipta sebuah pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan meyenangkan.

RENUNGAN

Bagi sebagian orang hidup di tahun ini mungkin lebih berat dibanding tahun sebelumnya. Setiap tahun hidup semakin sulit, dan pada kenyataannya memang dunia tidak pernah dikatakan akan menjadi semakin mudah. Seribu satu tekanan terus membebani kita, seribu satu masalah datang silih berganti bahkan menyerbu beriringan, dan kekhawatiran pun biasanya menjadi bagian hidup kita yang sulit terpisahkan. Sekali lagi, hidup tidaklah mudah. Kita selalu harus berjuang untuk mampu bertahan hidup di dunia yang sulit ini, apalagi bertahan menghadapi berbagai hal yang siap menghancurkan iman kita. Tapi haruskah kita terus hidup dibawah tekanan kekhawatiran? Tuhan tidak menginginkan satupun dari kita untuk merasakan itu. Tuhan tidak menginginkan kita untuk masuk ke dalam pola kehidupan dunia yang penuh dengan kecemasan. Apa yang diinginkan Tuhan adalah agar kita tidak takut, tidak khawatir, tidak perlu cemas, karena Allah siap menjadi tempat kita berlindung. Dia siap mendengar dan menjawab doa-doa kita. Tapi ada satu kunci yang seringkali kita lupakan, yaitu mengisi doa-doa kita dengan ucapan syukur.
Mungkin kita memang memulai doa kita dengan ucapan terima kasih, tapi seberapa banyak yang benar-benar menghayati ucapan syukur itu secara sungguh-sungguh? Seringkali kita hanya sekedar terbiasa mengucapkannya sementara isi pikiran kita sudah langsung penuh dengan daftar permintaan sejak awal kita mulai berdoa. Tuhan tidak menginginkan yang seperti itu. Dia ingin kita terlebih dahulu percaya lewat iman kita. Dia ingin kita memulai doa kita tanpa diselimuti perasaan khawatir, lalu mengangkat permohonan kita dengan rasa percaya yang penuh, dan hanya itu yang memungkinkan kita untuk mampu mengisi doa dengan ucapan syukur yang sesungguhnya.

cerita motivasi

Suatu malam, Budi seorang eksekutif sukses, seperti biasanya sibuk memperhatikan berkas-berkas pekerjaan kantor yang dibawanya pulang ke rumah, karena keesokan harinya ada rapat umum yang sangat penting dengan para pemegang saham.

Ketika ia sedang asyik menyeleksi dokumen kantor tersebut, Putrinya Jessica datang mendekatinya, berdiri tepat disampingnya, sambil memegang buku cerita baru. Buku itu bergambar seorang peri kecil yang imut, sangat menarik perhatian
''Jessica'' : Pa liat"! (Jessica berusaha menarik perhatian ayahnya).
''Budi'' : (menengok ke arahnya, sambil menurunkan kacamatanya, kalimat yang keluar hanyalah kalimat basa-basi) "Wah,. buku baru ya Jes?"
''Jessica" : Ya papa" (Jessica berseri-seri karena merasa ada tanggapan dari ayahnya)."Bacain Jessi dong Pa" pinta Jessica lembut
"Wah papa sedang sibuk sekali, jangan sekarang deh" sanggah Budi dengan cepat. Lalu ia segera mengalihkan perhatiannya pada kertas-kertas yang berserakkan didepannya, dengan serius.Jessica bengong sejenak, namun ia belum menyerah. Dengan suara lembut dan sedikit manja ia kembali merayu"pa, mama bilang papa mau baca untuk Jessi"
Budi mulai agak kesal, "Jes papa sibuk, sekarang Jessi suruh mama baca ya"
"Pa, mama cibuk terus, papa liat gambarnya lucu-lucu"
"Lain kali Jessica, sana! papa lagi banyak kerjaan" Budi berusaha memusatkan perhatiannya pada lembar-lembar kertas tadi, menit demi menit berlalu, Jessica menarik nafas panjang dan tetap disitu, berdiri ditempatnya penuh harap, dan tiba-tiba ia mulai lagi."Pa,.. gambarnya bagus, papa pasti suka""Jessica, PAPA BILANG, LAIN KALI!!" kata Budi membentaknya dengan keras.
Kali ini Budi berhasil, semangat Jessica kecil terkulai, hampir menangis , matanya berkaca-kaca dan ia bergeser menjauhi ayahnya"Iya pa,. lain kali ya pa?"Ia masih sempat mendekati ayahnya dan sambil menyentuh lembut tangan ayahnya ia menaruh buku cerita di pangkuan sang Ayah."Pa kalau papa ada waktu, papa baca keras-keras ya pa, supaya Jessica bisa denger".

Hari demi hari telah berlalu, tanpa terasa dua pekan telah berlalu namun permintaan Jessica kecil tidak pernah terpenuhi, buku cerita Peri Imut, belum pernah dibacakan bagi dirinya.Hingga suatu sore terdengar suara hentakan keras "Buukk!!" beberapa tetangga melaporkan dengan histeris bahwa Jessica kecil terlindas kendaraan seorang pemuda mabuk yang melajukan kendaraannya dengan kencang didepan rumah Budi. Tubuh Jessica mungil terhentak beberapa meter, dalam keadaan yang begitu panik ambulance didatangkan secepatnya.Sela ma perjalanan menuju rumah sakit, Jessica kecil sempat berkata dengan begitu lirih"Jessi takut Pa, Jessi takut Ma, Jessi sayang papa mama"

Darah segar terus keluar dari mulutnya hingga ia tidak tertolong lagi ketika sesampainya di rumah sakit terdekat.Kejadi an hari itu begitu mengguncangkan hati nurani Budi, Tidak ada lagi waktu tersisa untuk memenuhi sebuah janji.Kini yang ada hanyalah penyesalan.Perm intaan sang buah hati yang sangat sederhana.. pun tidak terpenuhi.
Masih segar terbayang dalam ingatan budi tangan mungil anaknya yang memohon kepadanya untuk membacakan sebuah cerita, kini sentuhan itu terasa sangat berarti sekali",...papa baca keras-keras ya Pa, supaya Jessica bisa denger"kata-kat a Jessi terngiang-ngian g kembali.
Sore itu setelah segalanya telah berlalu, yang tersisa hanya keheningan dan kesunyian hati, canda dan riang Jessica kecil tidak akan terdengar lagi, Budi mulai membuka buku cerita peri imut yang diambilnya perlahan dari onggokan mainan Jessica di pojok ruangan.Bukunya sudah tidak baru lagi, sampulnya sudah usang dan koyak. Beberapa coretan tak berbentuk menghiasi lembar-lembar halamannya seperti sebuah kenangan indah dari Jessica kecil.
Budi menguatkan hati, dengan mata yang berkaca-kaca ia membuka halaman pertama dan membacanya dengan suara keras, tampak sekali ia berusaha membacanya dengan keras, Ia terus membacanya dengan keras-keras halaman demi halaman, dengan berlinang air mata.
"Jessi dengar papa baca ya"selang beberapa kata,.. hatinya memohon lagi
"Jessi, papa mohon ampun nak""papa sayang Jessi!"
Seakan setiap kata dalam bacaan itu begitu menggores lubuk hatinya, tak kuasa menahan itu Budi bersujud dan menangis memohon satu kesempatan lagi untuk mencintai.
Seseorang yang mengasihi selalu mengalikan kesenangan dan membagi kesedihan kita, Ia selalu memberi PERHATIAN kepada kita karena ia peduli kepada kita.
ADAKAH "PERHATIAN TERBAIK" ITU BEGITU MAHAL BAGI MEREKA ? BERILAH "PERHATIAN TERBAIK" WALAUPUN ITU HANYA SEKALIBerilah "PERHATIAN TERBAIK" bagi mereka yang kita cintai.
LAKUKAN SEKARANG!!!

PENERAPAN MODEL KOMPETENSI GURU MELALUI KEGIATAN BERBAGI PRAKTIK BAIK PADA KOMUNITAS BELAJAR

  BAB I PENDAHULUAN   A. Latar Belakang Masalah Pendidikan di Indonesia terus mengalami dinamika perubahan yang signifikan, teruta...