Friday, 15 May 2015

CERPENKU................



ROTI BAKAR



Kring kring ada sepeda....
Sepedaku roda dua....
Ku dapat dari Bunda....
Karena rajin bekerja....
Suara alarm mengagetkan tidurku. Aku langsung tersadar dalam mimpiku yang panjang yang telah menemani malamku. Ku lihat jam bekerku dan langsung ku matikan alarmnya.
“Ya ampuuuunn..... Hari ini kan awal aku masuk ke sekolah baruku!!!”, teriakku kaget.
Perkenalkan... Aku Dara. Nama lengkapku Dara Aisya. Aku baru saja lulus SD. Hari ini awal mulaku menginjakkan kaki di SMP baruku, khususnya di SMPN 1 Jakarta.
“Dara!! Ayo cepet sarapan. Makanan tlah siap saji”, teriak mama kepadaku.
Aku langsung bergegas menuju ruang makan. Karna tak melihat sekeliling jalan, aku tak sengaja menabrak kursi dekat ruang makanku. Kakiku sakit. Mama yang melihatku hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Dara, ni masih jam setengah 7. Belum telat sayang”, ujar mama lembut.
“Iya Ma.... Tapi kan hari ini ada MOS Ma. Jam 7 kurang seperempat harus sudah sampai di lapangan”, jawabku sambil membenahi tali sepatuku.
Aku hanya makan 3 sendok dan langsung berpamitan sama mama. Dengan langkah tergesa-gesa, ku kayuh sepedaku dengan cepat. Sesekali di perjalanan ku tengok jam tanganku. Waktu tinggal 3 menit lagi. Ya ampun aku bisa dimarahi habis-habisan sama kakak-kakak OSIS.
Sesampai di sekolah, aku hanya pasrah karena aku tlah terlambat 5 menit. Aku takut. Awalnya aku tak mau menuju gerbang sekolah. tetapi aku berpikir, lebih fatal lagi kalau aku tak jadi masuk, bisa-bisa mama juga ikut memarahiku.
Dengan langkah gugup serta ketakutan, kulewati gerbang sekolah dan aku langsung menuju ke lapangan tempat anak-anak baru berkumpul. Ha!! Aku kaget setengah mati. Gimana enggak.... Semua tlah berbaris dengan rapi dan aku membuyarkan barisan mereka. Karena mereka kaget melihatku baru datang.
“Hey kamu!!!! Sini maju ke depan. Berani sekali kamu terlambat!!!”, salah seorang kakak OSIS membentakku.
Aku hanya menurut saja. Seharusnya ini awal yang menyenangkan. Tetapi semua malah sebaliknya. Aku benar-benar malu dengan teman baruku, apalagi kakak-kakak OSIS yang dari tadi memelototiku. Tanganku gemetaran, rasanya aku pengen buang air kecil.
“Heh!!! Siapa nama kamu!!!”, salah seorang kakak OSIS yang tadi membentakku menanyai namaku.
“Dara Kak....”, jawabku dengan suara gemetaran.
“Heh!!! Siapa??? Gak jelas sekali kamu ngomongnya!!!”, bentak kakak OSIS tadi.
“DARA Kak”, jawabku dengan suara agak keras.
“Oh jadi nama kamu Dara. Enaknya diapain nih???”, ujar kakak tadi dengan muka sinis.
Peserta MOS alias teman-teman baruku juga sangat ketakutan melihatku dibully oleh kakak-kakak OSIS seperti ini. Kakak OSIS yang lain ada yang tertawa, ada juga yang membelaku. Terkadang aku ingin dan berharap aku jauh dari hukuman dan ada kakak yang mau menjadi pahlawanku. Ah,, aku hanya bermimpi yang tak pasti. Mereka semua juga baru mengenalku. Apa daya hendak dikata. Aku hanya terima perlakuan apa yang nanti mereka berikan terhadapku.
Kakak-kakak ini begitu galak terhadapku. Mentang-mentang mereka lebih besar dariku, mereka berani membully adiknya seperti ini. Aku terus mencabuti rumput-rumput lapangan, walaupun hatiku sebal dan rasa benciku dengan kakak OSIS semakin bertambah. “Uhhhhhh”, gumamku.
“Heh kamu!!!!”.
Suara itu mengagetkanku. Kualihkan wajahku ke arah suara itu. Terlihat muka sinis dan wajahnya yang agak menyeramkan. Ya itu salah satu kakak OSIS di SMP ku. Ku tengok papan namanya yang bertulis Andriansyah Ferdian.
“A...a...a...ada apa Kak?”, kataku dengan keringatku yang bercucuran karena mentari tlah membakar kulitku dari tadi.
“Nih”, ujar kak Andri dengan menyodorkan minuman segar kepadaku.
Kaget bukan kepalang. Apa maksudnya? Aku hanya bertanya-tanya dalam hati. Di satu sisi aku sangat senang, tetapi di sisi lain aku masih membencinya. Gimana tidak? Mereka semua mempermalukanku habis-habisan hari ini.
Ku lihat wajah kak Andri. Dari muka sinis berubah menjadi senyuman indah dan berlalu begitu saja. Hanya sekian detik aku merasakannya. Ya memang wajah kak Andri terlihat manis jika ia tersenyum. Rupanya bak Lee Min Ho, cakeeep abis. Kak Andri masih sibuk mengurusi anak-anak MOS lainnya. Tetapi hatiku berdebar tak karuan. Ah ada apa dengan diriku? Aku masih terlalu kecil untuk memahami apa yang ku rasakan.
­­­­­­             ___________________________________________________       
Ku dekap boneka kesayanganku dan aku terus bertanya tentang kejadian tadi. Aku hanya bertanya sendiri. Ku curahkan rasa kebingunganku pada boneka kesayanganku. Tetapi dia tak menjawab. Hanya tersenyum dan melihatku saja. Ah memang namanya aja juga boneka, mana bisa bicara.
“Kak Andri, kenapa kak Andri membuatku deg-degan. Ah kenapa aku?”, gumamku.
            Ku buka handphoneku. Aku ingin membuka facebookku, ingin kutulis curahan hatiku di sana. Entah siapa yang membacanya. Eh ada satu pesan untukku. Siapa dia?
            Kaget bukan main. Ternyata kak Andri yang meng-inbox-ku. Ya ampun darimana kak Andri tahu kalau itu fb aku? Aku bingung dan benar-benar bingung. Aku terus bertanya-tanya. Hanya tertera tulisan “Hay, kamu Aisya kan?”. Kenapa kak Andri memanggilku Aisya. Kenapa gak Dara aja. Kadang aku merasa benci dengan panggilan itu. Entah aku tak tau.
            Ku gerakkan jemariku dan hasilnya “Ia kak, ni kak Andri kan?”. Sebenarnya aku malu sekali membalas pesan dari kak Andri. Tapi apa boleh buat, nanti bisa-bisa aku dikira sombong jika tak menghiraukannya. Hehehe aku ingin jadi adik kelas yang baik.
            Ku tunggu balasannya, tapi apa setelah ku tengok fb kak Andri “aktif sekitar 15 menit yang lalu”. Kak Andri tlah off. Ya mungkin besok atau besoknya lagi, kak Andri bakal membalas balasanku biar ada timbal baliknya. Bisa dibilang biar biimplikasi bak teorema jika dan hanya jika. Aku bales dia, dia juga bales pesenku. Itu sih harapan kecilku saja. Ya kan yang mulai duluan juga dirinya. Bukan aku....
                        _____________________________________________________
            MOS hari kedua tetap aja ada bully-bullyan. Untung saja bukan aku lagi yang jadi bahan ejekan. Tetapi aku juga merasa iba dengan teman-temanku yang bernasib sama seperti aku kemarin. Tak ku sadari pulpenku jatuh, aku sama sekali tak menggubrisnya.
“Dara! pulpen kamu jatuh tuh. Dara! Dara!” teriak teman di sampingku, namanya Mika dengan kacamatanya yang besar dan wajahnya yang imut-imut lucu.
“Eh ada apa Mik?”, jawabku setengah kaget. Entah aku tadi tlah berkhayal apa. Atau terlalu mendalami puisi yang dibacakan oleh kak Andri di depan adik-adiknya ini ya.
“Ah kau nie. Malah nglamun coba. Nih pulpenmu jatuh. Aku kasih tau dari tadi, kamu diam aja”, sambil menyodorkan pulpen ke arahku.
            Aduh Mika maaf banget ni. Abis puisi kak Andri bagus banget. Terenyuh aku mendengarnya. Intinya tentang arti persahabatan. Sahabat takkan terlupa walau kita dihadapi jalan berliku. Ah indah banget kata-katanya.
“Aisya!!”, teriak orang di belakangku.
Hah ada orang yang memanggilku Aisya. Apa mungkin itu kak Andri. Langsung ku tengok belakang. Sebuah senyuman manis dilontarkan untukku. “Idih kak Andri”, batinku.
Kak Andri menghampiriku. Dia memberiku roti kesukaannya. Kak Andri bercerita banyak tentang roti kesukaannya itu. Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
“Kak, darimana Kakak tau fbku?”, tanyaku.
“Oh yang itu.... Aku hanya lihat-lihat saja dan aku nemuin fbmu. Mana aku lupa wajahmu yang manis ni”, jawab kak Andri sambil senyum-senyum.
Aku hanya tersipu malu. Kak Andri ngatain aku manis. Semanis apa kak? Apakah semanis gula? Pikiranku makin melayang tak tau ke mana. Aku makin penasaran dengan kak Andri. Aku ingin slalu ada di dekatnya, walaupun itu hanya sekedar teman biasa. Aku juga tak pernah menginginkan sesuatu yang besar untuk kak Andri menganggapku apa. “Kan aku masih kecil”, batinku sambil tersenyum.
Tak ku sangka. Aku tlah berjalan berkeliling gedung sekolah berdua dengan kak Andri. Ya ampun aku PD sekali. Aku tlah bertanya macam-macam. Mulai dari siapa kepala sekolahnya, berapa ruangan kelasnya, sampai kapan awal mula sekolah didirikan. Emang ini sekolah rakyat yang ada sejarahnya karena dibangun pada zaman penjajahan. Tapi kan semua sekolah pasti ada riwayat hidupnya sendiri. Eh maksudku SEJARAHNYA SENDIRI.
Kak Andri terus menjawab dengan serius sambil diselingi candaan kecil-kecilan yang sudah membuatku tertawa cekikikan. Biarpun candaan kak Andri kalau orang lain mendengarnya belum tentu lucu tetapi bagiku lucu 100%. Sepertinya dari muka kak Andri yang ku lirik, dia sangat senang tlah berhasil buatku tertawa. Apa aku yang ke-GR-an??
            _______________________________________________________
Hari ini terakhir MOS. Bisa dikatakan ini malam perpisahan. Bukan perpisahan karena mau meninggalkan sekolah tetapi ini malah sebaliknya. Malam inagurasi mungkin namanya. Setiap anak baru boleh menampilkan bakat mereka. Aku juga ingin tampil. Tapi ngapain ya?
“Tepuk tangan dulu dong buat band sekolah kita!!!”, teriak pembawa acara dengan semangat. Suara tepukan semakin ramai. Aku juga penasaran siapa sih band sekolah itu.
            Hah kak Andri! Kak Andri kenapa harus kak Andri lagi. Kak Andri hebat. Dia bisa segalanya. Bisa dikatakan perfect. Suara kak Andri merdu. Gak ada satu nadapun yang fals. Lagunya seakan hidup jika dibawakan oleh kak Andri. Aku malah senyum-senyum gak jelas. Tak ku hiraukan orang di sampingku menganggapku apa. Tetapi suara kak Andri tlah membuat hatiku seakan bersinar. Oh no! Lebay sekali aku. Hahaha
“Dara, kak Andri suaranya bagus banget ya”, ujar Mika kepadaku sambil senyum-senyum gemes.
“Iya lah. Kalau gak bagus bukan kak Andri namanya”, jawabku.
            Sepertinya Mika juga ngefans berat dengan kak Andri. Ada rasa tak suka di hati. Apa mungkin aku iri atau aku jealous. Gak mungkin lah. Aku hanya sekedar ngefans juga ma kak Andri. Aku memang menyukai sosok kak Andri karena yang lain, bukan suka dalam artian cinta.
            Cinta? Apa sih itu cinta? Aku bertanya-tanya pada bonekaku, tapi dia cueknya bukan main. Ku slalu teringat wajah kak Andri, senyumnya pula. Aku juga ingat suaranya dan aku ingat lagu yang dibawakannya “Satu Bintang by Antique”. Ku buka fbku, dan ciaaaa, di berandaku ada status kak Andri “hidup akan berwarna jika kita punya cinta dan cita-cita”. Tak perlu pikir panjang, aku langsung berkomentar. Bisa dibilang akulah komentator paling pertama. Tapi kak Andri gak membalasnya. Padahal yang ku tau dia masih ON. Kenapa? Aku jadi sedih. Dan terkadang aku merasa di php-in. Ah mikir apa sih aku? Mungkin kak Andri masih sibuk browsing yang lain. Mungkin juga kak Andri lagi mencari materi pelajarannya. Siapa tau dia anak rajin.
            Tiba-tiba ada satu pemberitahuan di dinding fbku “Andriansyah juga mengomentari statusnya”. Walaupun tlah berjarak 25 menit tetapi aku girangnya bukan main. Aku tak membalasnya lagi karena mama memanggilku untuk membantu beliau di dapur.
“Ma, acaranya malam ini?”, tanyaku.
“Ya ampun sayang. Ya iya lah malam ini. Kan malam ini ulang tahun kamu sayang”, jawab mama.
            Ya ampun kenapa aku bisa lupa dengan ulang tahunku sendiri. Dan ternyata mama tlah mengundang semua teman-teman SD ku dan juga teman-teman mama serta tetanggaku. Mama tak mengundang teman-teman SMP ku karena mama tak banyak mengenal mereka. Apalagi aku masih murid baru. Mungkin hanya Mika, Lista, dan Ujang yang mama kenal karena mereka temanku dari SD. Yang aku pikirkan saat ini, aku ingin kak Andri datang di hari ulang tahunku. Kak Andri tahu darimana kalau hari ini ulang tahunku jika aku gak kasih tau. Tanggal lahir di profil fb, ku atur hanya saya yang bisa melihatnya. Aku tak membagikannya ke publik. Dan kak Andri pasti tak tahu kalau hari ini hari spesial dan istimewa bagiku.
            Pesta tlah mulai. Para undangan mulai berdatangan dan mengucapkan selamat kepadaku sambil memberiku bingkisan-bingkisan kecil. Aku sangat bahagia, ini ulang tahunku yang ke-13 yang menurutku aku tlah memasuki usia rawan bagi seorang perempuan karena aku tlah memasuki masa remaja. Ya walaupun masih pemula. Meja-meja tertata rapi dan banyak bunga-bunga  di sekelilingku. Tetapi ada satu hal yang membuatnya kurang begitu istimewa, kak Andri tak datang di ulang tahunku. Padahal aku terus menengok kesana kemari tetapi aku tak menemukan sosok yang ku harapkan. Emangnya kak Andri tahu? Dia kan gak dapet undangan.
“Selamat ya Dara. Semoga panjang umur dan sehat slalu”, ujar Mika, Lista dan Ujang serentak sambil cipika cipiki kepadaku kecuali si Ujang, dia kan cowok. Ujang hanya bersalaman denganku saja.
Potong kuenya potong kuenya...............
Potong kuenya sekarang juga.................
Sekarang juga..............
            Sebelum aku potong kue, aku berdoa kepada Tuhan agar di usiaku yang ke-13 ini aku slalu diberi kesehatan dan yang terpenting aku berdoa untuk mama dan papa agar mereka slalu dijaga oleh Tuhan. Ku potong dengan hati-hati dan kubagikan dan spesial yang paling pertama untuk mama dan papa. Andaikan ada wujud kak Andri di sini, aku ingin yang kedua untuknya. Mungkin suatu saat aku bisa memberikan kue ini padanya.
                        _______________________________________________
“Ihhh ultahmu kemarin keren juga ya”, ujar Ujang sambil makan bakso pedas kesukaannya.
“Iya lah. Yang ngatur pesta kan mama ma papa. Pasti keren dong”, jawabku sambil kusibakkan rambut panjangku bak bergaya ala bintang iklan sampo.
“Eh kemaren kamu ultah. Kenapa kamu gak ngomong?”
            Tiba-tiba ada suara misterius di belakangku. Ku pandangi wajahnya. “Kak Andri!!!”, ujarku kaget. Aku hanya bertanya-tanya dalam hati, “Dari kapan kak Andri ada di sini. Perasaan tadi di kursi kantin belakangku hanya ada anak kelas 7 bukan kak Andri”.
            Kak Andri hanya tersenyum dan memberiku ucapan selamat. Mika yang melihatku bersama kak Andri terasa janggal. Sepertinya dia cemburu. Tetapi dia tetap tersenyum melihatku. Sebenarnya di sisi lain aku tak mau melukai sahabatku yang dari SD tlah bersama. Semoga Mika gak menganggap sesuatu ini serius. Aku dan kak Andri hanya sebatas teman walau kadang hatiku berontak. Aku ingin sesuatu yang lebih dari teman. Walau itu kemungkinan kecil sekali jika aku bayangkan. Dan jika ku logika entah true atau false hasilnya.
            Kak Andri pergi meninggalkanku karena ada rapat OSIS mendadak. Ya tak apa lah. Aku berbunga-bunga. Kak Andri mengucapkan selamat untukku.
“Dara, kamu naksir ya ma kak Andri”, tanya Mika tiba-tiba.
“Ha!! Naksir? Ya enggak lah. Kan kamu tau aku menganggap dia kakak dan kita hanya temenan”, jawabku.
            Kenapa sih Mika bertanya seperti ini padaku. Apa mungkin dia kepo sekali ya apa yang ku rasakan. Naksir kak Andri? Aku saja tak berani bilang tentang hal itu. Aku tak berani bilang aku naksir kak Andri. Aku sekedar ngefans sama dia karena dialah satu-satunya kakak OSIS yang berhati mulia. Ah kayak apa aja deh. Atau jangan-jangan Mika yang naksir dengan kak Andri. Biarlah semua orang berhak merasakan apa yang mereka rasakan.
            Sepulang sekolah kak Andri mengajakku ke taman sekolah. Ngapain lagi kesana. Tapi aku nurut-nurut saja. Karena hatiku tlah berhasil dicuri oleh kak Andri. Aha!! Lebay...
            Tiba-tiba kak Andri memberiku setangkai bunga mawar merah. Pikiranku melayang entah kemana. Aku jadi teringat kalau bunga mawar merah adalah tanda cinta, tanda keromantisan. Semuanya hanya bayangan, mungkin kak Andri hanya ingin menghiburku dengan setangkai bunga atau mungkin ini tanda persahabatan.
            Dengan tangan agak gemetaran, ku terima bunga itu. Aku benar-benar bingung, apa sih maksud kak Andri dari semua ini? Kadang aku takut tuk merasakan sesuatu yang lain, yang mungkin dan seharusnya ini memang sudah waktunya anak seumuranku merasakannya.
“Aisya.... Kamu suka bunganya? Kamu gak tanya, kenapa aku kasih bunga ini ke kamu?”, ujar kak Andri tiba-tiba.
            Jantungku berdegup kencang. Mau mengeluarkan suara saja rasanya berat sekali bak mengangkat tumpukan besi di pundakku. “A...a...a...aku sebenarnya kaget juga Kak. Emang maksud Kakak apa?”, tanyaku dengan muka memerah dan semoga kak Andri tak menyadarinya.
“Kamu tau? Kamu bingung? Tau gak dari semenjak kita ketemu, aku dah merasakan sesuatu yang lain dengan kamu. Aku juga sadar sih kita masih SMP. Kamu juga baru kelas 7 dan aku baru kelas 9. Tetapi tak salahkah aku jika aku menyukaimu? Bisa dikatakan aku cinta sama kamu”, ujar kak Andri dengan nadanya yang sangat halus.
            Hatiku bergejolak tak karuan. Kak Andri kenapa kak Andri ngomong seperti ini denganku? Aku masih terlalu kecil tuk menerima semuanya. Aku hanya bengong melihat kak Andri. Aku tak tau harus jawab apa. Kalau D’Masiv rindu setengah mati, sekarang keadaanku sedang bingung setengah mati. Mama, aku harus bicara apa? Aku harus bagaimana? Aku tak pernah merasakan sesuatu yang lain ini sebelumnya. Apakah ini jatuh cinta pada pandangan pertama. Apa aku harus menjawab “iya Kak aku hargai semuanya dan kita coba jalani dulu aja” atau aku harus menjawab “maaf Kak, aku gak bisa. Aku masih kecil. Belum waktunya seperti ini”. Galau super duper galau. Cita Citata tolong aku. Hibur aku dengan lagu Goyang Dumang-mu.
                        ___________________________________________________
            Semenjak kejadian itu, kak Andri sering menjauhiku. Apa mungkin ya kak Andri marah karena aku tak menjawab perasaannya kepadaku. “Kak Andri, Dara minta maaf. Dara salah. Dara tlah buat Kak Andri sakit hati”, batinku dan rasanya aku ingin menangis.
            Hari demi hari kulalui dengan penuh hati-hati. Sekarang aku tlah jauh dari bayang-bayang kak Andri. Di facebook, di sekolah dan di manapun, aku tak pernah bertemu kak Andri, tak pernah saling menyapa, tak pernah saling bicara. Terkadang hatiku merasa iba, merasa salah. Aku jadi menghina diriku sendiri bukan berarti aku rendah diri. Aku jahat. Ya aku jahat banget. Tetapi kenapa kak Andri begitu cuek denganku. Sebesar apa marah dia.  
            Hari ini Ujian Nasional tlah usai. Dulu aku pernah berpikir, kak Andri menjauhiku karena dia ingin fokus belajar dulu. Dia ingin konsentrasi. Dia tak mau terganggu oleh apapun. Tetapi apa boleh buat, sampai sekarang pun kak Andri tak pernah berjalan ke arahku. Aku pernah berharap kak Andri akan menyapaku, tetapi apa yang aku dapat. Kak Andri berjalan di sampingku tanpa menengok ke arahku satu kali saja. Hatiku sedih. Aku ingin menangis. Bila bertemu dengan bidadari surga, aku ingin mencurahkan rasa sakitku ini kepadanya.
                        ­_______________________________________________
“Dara! Aku ingin banget beli roti bakar di toko Sahara itu. Rasanya enak banget”, ajak Mika kepadaku tiba-tiba.
“Hah? Roti bakar? Gak ada yang lain apa! Aku gak suka. Gak suka banget”, ujarku kesal.
            Roti bakar? Itu kan roti kesukaan kak Andri. Kak Andri juga suka sekali beli di toko itu. Kenapa aku jadi teringat kak Andri. Rasanya hati ini ingin berontak. Kak Andri tega melukaiku. Kak Andri tega menyakitiku. Kak Andri tak menganggapku lagi. Cinta yang keluar dari mulut kak Andri itu hanya omdo belaka tak dari hati dan perasaan yang paling dalam. Bisa dibilang kak Andri gak punya hati.
“Dara! Ayo... Temenin aku aja deh kalo kamu gak suka. Masa aku sendirian di sana? Temenin aku ya ya”, ajak Mika sambil memohon-mohon kepadaku.
“Ia deh, tapi jangan lama-lama ya”, jawabku pelan dan sebenarnya aku tak mau ada hal yang menyangkut tentang kak Andri lagi di hadapanku.
            Dengan langkah gontai, aku mengantar Mika ke toko itu. Rasanya kakiku berat tuk melangkah ke tempat itu. Tetapi apa boleh buat. Aku sayang sahabatku. Aku tak mau dia terluka juga karenaku. Mika tak boleh tau apa yang sebenarnya aku pikirkan. Karena aku ingin melupakannya walaupun itu susah sekali tuk aku hadapi. Padahal kini aku tlah berseragam putih abu-abu. Tetapi rasanya masih terus membekas di lubuk hatiku paling dalam.
            Toko sepi tetapi pintunya masih terbuka. Aneh. Sepertinya penjual lagi sibuk sampai tokonya dibiarkan begini. Apa gak khawatir kalau ada maling. Ya siapa tahu ada maling roti bakar. Mika terus melihat-lihat roti bakar kesukaannya. Ada rasa strawberry, ada rasa melon, ada rasa coklat, banyak banget deh pokoknya. Emang enak sih tetapi semua malah membuatku mengingat kejadian 4 tahun silam yang terasa pedih tuk dijalani. Aku pun kiut berputar-putar melihat roti bakar sambil menunggu si pemilik toko. Ku tengok keluar tetapi tetap tak datang. Aku pun terhenti saat kulihat roti keju di sebelah roti bakar. Kayaknya rasanya enak sekali.
            Tiba-tiba.....
“Mbak mau beli roti yang mana? Roti keju apa roti bakar?”, tanyanya dari belakang.
            Aku kaget. Aku berpikir itulah si pemilik toko yang Mika dan aku tunggu dari tadi. Aku langsung berpaling arah. Wah ternyata si pemilik toko ini bapak yang berjanggut tebal. Agak menyeramkan juga sih. Orangnya pakai kacamata hitam, bajunya hitam pula.
“Eh Bapak, ni Pak teman saya yang mau beli roti Pak. Roti bakar Pak”, jawabku sambil senyum-senyum serta kuberi kode ke Mika karena dia yang ingin beli roti bakar, ya masa aku yang ngomong.
“Oh kamu yang mau beli”, bapak itu langsung melihat ke arah Mika.
            Mika hanya mengangguk tersenyum. Dan tiba-tiba bapak tadi melihat ke arahku lagi.
“Kenapa kamu gak beli Mbak. Ni enak sekali. Kenapa hanya teman kamu yang beli?”, tanya bapak itu kepadaku.
            Aku bingung juga sih. Kenapa si pemilik toko ini memaksa orang yang berkunjung harus membeli rotinya juga. Ya masa aku mau bilang gak suka. Aku hanya menjawab dengan senyuman. Bapak itu tetap memaksaku untuk beli dengan nadanya yang halus dan sedikit agak menghormati. Aku menyenggol tangan Mika berkali-kali karena aku ingin pergi dari toko itu. Tetapi Mika tetap serius memilih roti kesukaannya tanpa memperhatikanku. Mika jadi cuek banget. Dan terkadang mukaku manyun sendiri. Bapak tadi terus mengikutiku dan memaksaku beli. Sebenarnya hatiku sudah dongkol banget. Ingin rasanya aku marah-marah dengan beliau. Tetapi kan aku masih tahu sopan santun. Kesabaran orang tetap ada batasnya. Aku terus menahan amarahku. Tiba-tiba...........
“Mbak Aisya”, terdengar suara lirih dari belakang.
            Kaget bukan kepalang. Siapa yang memanggilku Aisya? Siapa? Aku terus melihat-lihat di sekeliling toko. Tetapi hasilnya nihil. Yang ku tahu hanya Mika dan bapak pemilik toko tadi. Suaranya suara cowok. Masa bapak itu yang memanggilku Aisya? Beliau mengenalku? Dan kenapa panggilan itu persis dengan panggilan orang yang selama ini ingin kulupakan dari kehidupanku.
“Ada apa Mbak Aisya, namanya Aisya kan?”, tanya bapak pemilik toko tadi.
            Aku hanya ternganga tandaku heran kepada beliau. Perasaan aku belum pernah berkenalan dengan bapak ini. Darimana dia tahu? Dan kenapa harus Aisya. aku melamun ke mana-mana. Mika yang melihatku hanya melongo kaget.
            Tiba-tiba..............
            Bapak pemilik toko mendekatiku sambil membisikkan sesuatu, “Mbak penasaran?”. Aku benar-benar takut terjadi sesuatu di luar dugaanku, di luar logikaku. Bapak tadi melepaskan kacamatanya, dan yang tak kusangka, bapak tadi juga melepaskan janggut tebalnya yang ternyata itu hanya mainan belaka. Aku, aku, aku benar-benar gak menyangka
“Aisya, masihkah kau mengenalku?”
            Sosok itu sangat terkenal dalam pikiranku. Sosok kakak OSIS yang kusukai sejak SMP, sejak aku masih menjadi murid baru. “Kak Andri??”, ujarku bahagia dan ku tersenyum terharu. Tak sengaja ku teteskan air mata ini. Aku benar-benar rindu walaupun aku pernah membencinya. Karena sebuah roti bakar, kita bisa bertemu. Mika tersenyum sambil makan roti bakar kesukaannya. Yummy, katanya.

---------------------------------------------- THE END --------------------------------------------

            By : Ihda Afifatun Nuha



                       


           




Thursday, 7 May 2015

GURU PROFESIONAL

Sebagian orang berpendapat, bahwa mengajar adalah proses penyampaian atau mentransfer ilmu dari seorang pendidik kepada peserta didik. Tetapi tampaknya pendapat ini harus jauh-jauh ditinggalkan, karena sudah tidak sesuai dengan perkembangan jaman. Kini mengajar harus kita maknai sebagai sebuah kegiatan yang komplek, yaitu penggunaan secara integratif sejumlah keterampilan untuk menyampaikan ilmu. Pengintegrasian keterampilan-keterampilan yang dimaksud di sini harus dilandasi dengan seperangkat teori dan diarahkan oleh suatu pengetahuan/wawasan. Sedangkan penearapannya akan menjadi unik bila dipengaruhi oleh semua komponen belajar mengajar. Komponen yang dimaksud adalah tujuan yang hendak digapai, ilmu yang ingin disampaikan, seubjek didik, fasilitas dan lingkungan belajar, dan yang tidak kalah penting adalah keterampilan, kebiasaan dan wawasan guru tentang dunia pendidikan dan misinya sebagai pendidik.

Jika mengajar dipahami sebagai kegiatan mentransfer ilmu kepada siswa, maka mengajar itu sendiri hanya akan terbatas pada penyampaian ilmu itu saja. Guru di pihak pertama menyampaiakan ilmu dan siswa di pihak kedua akan menerima secara pasif. Prosesnya pun bisa diketahui, pembelajaran akan berjalan secara membosankan. Karena yang mendominasi pembelajaran adalah guru, sedangkan siswa hanya sebagai penerima.

Namun, apabila mengajar dimaknai sebagai segala upaya yang dilakukan dengan sengaja untuk menciptakan proses belajara pada siswa dan mencapai tujuan yang telah dirumuskan, maka jelas bahwa yang menjadi sasaran akhir dari proses pengajaran itu ialah siswa belajar. Artinya dalam hal ini segala upaya apapun dapat dilakukan selagi bisa dipertanggungjawabkan, dan bisa menghantarkan siswa menuju pencapaian tujuan belajar yang telah dicanangkan, artinya siswa belajar secara aktif, dan yang mendominasi dikelas adalah siswa.

Kesimpulannya, hakekat menjajar itu merupakan usaha guru menciptakan dan mendesain proses belajar pada siswa. Jadi yang terpenting dalam belajar mengajar itu bukanlah bahan yang disampaikan oleh guru, akan tetapi proses siswa dalam mempelajari bahan tersebut (guru lebih menghargai proses dari pada hasil). Sekali lagi peranan yang menonjol dalam belajar mengajar ada pada siswa, ini bukan berarti bahwa peranan guru tersisihkan, hanya diubah saja.

Jadi, guru yang profesional adalah guru yang dapat melakukan tugas mengajarnya dengan baik melalui keterampilan-keterampilan khusus agar tercipta sebuah pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan meyenangkan.

RENUNGAN

Bagi sebagian orang hidup di tahun ini mungkin lebih berat dibanding tahun sebelumnya. Setiap tahun hidup semakin sulit, dan pada kenyataannya memang dunia tidak pernah dikatakan akan menjadi semakin mudah. Seribu satu tekanan terus membebani kita, seribu satu masalah datang silih berganti bahkan menyerbu beriringan, dan kekhawatiran pun biasanya menjadi bagian hidup kita yang sulit terpisahkan. Sekali lagi, hidup tidaklah mudah. Kita selalu harus berjuang untuk mampu bertahan hidup di dunia yang sulit ini, apalagi bertahan menghadapi berbagai hal yang siap menghancurkan iman kita. Tapi haruskah kita terus hidup dibawah tekanan kekhawatiran? Tuhan tidak menginginkan satupun dari kita untuk merasakan itu. Tuhan tidak menginginkan kita untuk masuk ke dalam pola kehidupan dunia yang penuh dengan kecemasan. Apa yang diinginkan Tuhan adalah agar kita tidak takut, tidak khawatir, tidak perlu cemas, karena Allah siap menjadi tempat kita berlindung. Dia siap mendengar dan menjawab doa-doa kita. Tapi ada satu kunci yang seringkali kita lupakan, yaitu mengisi doa-doa kita dengan ucapan syukur.
Mungkin kita memang memulai doa kita dengan ucapan terima kasih, tapi seberapa banyak yang benar-benar menghayati ucapan syukur itu secara sungguh-sungguh? Seringkali kita hanya sekedar terbiasa mengucapkannya sementara isi pikiran kita sudah langsung penuh dengan daftar permintaan sejak awal kita mulai berdoa. Tuhan tidak menginginkan yang seperti itu. Dia ingin kita terlebih dahulu percaya lewat iman kita. Dia ingin kita memulai doa kita tanpa diselimuti perasaan khawatir, lalu mengangkat permohonan kita dengan rasa percaya yang penuh, dan hanya itu yang memungkinkan kita untuk mampu mengisi doa dengan ucapan syukur yang sesungguhnya.

cerita motivasi

Suatu malam, Budi seorang eksekutif sukses, seperti biasanya sibuk memperhatikan berkas-berkas pekerjaan kantor yang dibawanya pulang ke rumah, karena keesokan harinya ada rapat umum yang sangat penting dengan para pemegang saham.

Ketika ia sedang asyik menyeleksi dokumen kantor tersebut, Putrinya Jessica datang mendekatinya, berdiri tepat disampingnya, sambil memegang buku cerita baru. Buku itu bergambar seorang peri kecil yang imut, sangat menarik perhatian
''Jessica'' : Pa liat"! (Jessica berusaha menarik perhatian ayahnya).
''Budi'' : (menengok ke arahnya, sambil menurunkan kacamatanya, kalimat yang keluar hanyalah kalimat basa-basi) "Wah,. buku baru ya Jes?"
''Jessica" : Ya papa" (Jessica berseri-seri karena merasa ada tanggapan dari ayahnya)."Bacain Jessi dong Pa" pinta Jessica lembut
"Wah papa sedang sibuk sekali, jangan sekarang deh" sanggah Budi dengan cepat. Lalu ia segera mengalihkan perhatiannya pada kertas-kertas yang berserakkan didepannya, dengan serius.Jessica bengong sejenak, namun ia belum menyerah. Dengan suara lembut dan sedikit manja ia kembali merayu"pa, mama bilang papa mau baca untuk Jessi"
Budi mulai agak kesal, "Jes papa sibuk, sekarang Jessi suruh mama baca ya"
"Pa, mama cibuk terus, papa liat gambarnya lucu-lucu"
"Lain kali Jessica, sana! papa lagi banyak kerjaan" Budi berusaha memusatkan perhatiannya pada lembar-lembar kertas tadi, menit demi menit berlalu, Jessica menarik nafas panjang dan tetap disitu, berdiri ditempatnya penuh harap, dan tiba-tiba ia mulai lagi."Pa,.. gambarnya bagus, papa pasti suka""Jessica, PAPA BILANG, LAIN KALI!!" kata Budi membentaknya dengan keras.
Kali ini Budi berhasil, semangat Jessica kecil terkulai, hampir menangis , matanya berkaca-kaca dan ia bergeser menjauhi ayahnya"Iya pa,. lain kali ya pa?"Ia masih sempat mendekati ayahnya dan sambil menyentuh lembut tangan ayahnya ia menaruh buku cerita di pangkuan sang Ayah."Pa kalau papa ada waktu, papa baca keras-keras ya pa, supaya Jessica bisa denger".

Hari demi hari telah berlalu, tanpa terasa dua pekan telah berlalu namun permintaan Jessica kecil tidak pernah terpenuhi, buku cerita Peri Imut, belum pernah dibacakan bagi dirinya.Hingga suatu sore terdengar suara hentakan keras "Buukk!!" beberapa tetangga melaporkan dengan histeris bahwa Jessica kecil terlindas kendaraan seorang pemuda mabuk yang melajukan kendaraannya dengan kencang didepan rumah Budi. Tubuh Jessica mungil terhentak beberapa meter, dalam keadaan yang begitu panik ambulance didatangkan secepatnya.Sela ma perjalanan menuju rumah sakit, Jessica kecil sempat berkata dengan begitu lirih"Jessi takut Pa, Jessi takut Ma, Jessi sayang papa mama"

Darah segar terus keluar dari mulutnya hingga ia tidak tertolong lagi ketika sesampainya di rumah sakit terdekat.Kejadi an hari itu begitu mengguncangkan hati nurani Budi, Tidak ada lagi waktu tersisa untuk memenuhi sebuah janji.Kini yang ada hanyalah penyesalan.Perm intaan sang buah hati yang sangat sederhana.. pun tidak terpenuhi.
Masih segar terbayang dalam ingatan budi tangan mungil anaknya yang memohon kepadanya untuk membacakan sebuah cerita, kini sentuhan itu terasa sangat berarti sekali",...papa baca keras-keras ya Pa, supaya Jessica bisa denger"kata-kat a Jessi terngiang-ngian g kembali.
Sore itu setelah segalanya telah berlalu, yang tersisa hanya keheningan dan kesunyian hati, canda dan riang Jessica kecil tidak akan terdengar lagi, Budi mulai membuka buku cerita peri imut yang diambilnya perlahan dari onggokan mainan Jessica di pojok ruangan.Bukunya sudah tidak baru lagi, sampulnya sudah usang dan koyak. Beberapa coretan tak berbentuk menghiasi lembar-lembar halamannya seperti sebuah kenangan indah dari Jessica kecil.
Budi menguatkan hati, dengan mata yang berkaca-kaca ia membuka halaman pertama dan membacanya dengan suara keras, tampak sekali ia berusaha membacanya dengan keras, Ia terus membacanya dengan keras-keras halaman demi halaman, dengan berlinang air mata.
"Jessi dengar papa baca ya"selang beberapa kata,.. hatinya memohon lagi
"Jessi, papa mohon ampun nak""papa sayang Jessi!"
Seakan setiap kata dalam bacaan itu begitu menggores lubuk hatinya, tak kuasa menahan itu Budi bersujud dan menangis memohon satu kesempatan lagi untuk mencintai.
Seseorang yang mengasihi selalu mengalikan kesenangan dan membagi kesedihan kita, Ia selalu memberi PERHATIAN kepada kita karena ia peduli kepada kita.
ADAKAH "PERHATIAN TERBAIK" ITU BEGITU MAHAL BAGI MEREKA ? BERILAH "PERHATIAN TERBAIK" WALAUPUN ITU HANYA SEKALIBerilah "PERHATIAN TERBAIK" bagi mereka yang kita cintai.
LAKUKAN SEKARANG!!!

Wednesday, 29 October 2014

cerPennnn

Sekitar dua puluh tahun yang lalu, Ami sedang menjalankan semester terakhir dan berusaha menyelesaikan skripsi. Disaat itu pula, 2 minggu yang akan datang, Ami akan dipersunting oleh seorang pria yang bernama Iman (bukan nama sebenarnya). Ami dan Iman telah berpacaran selama 7 tahun. Iman merupakan teman SD Ami. Mereka telah kenal selama 14 tahun. Masa 7 tahun adalah masa pertemanan, dan kemudian dilanjutkan ke masa pacaran. Mereka bahkan telah bertunangan dan 2 minggu ke depan, Ami dan Iman akan melangsungkan ijab kabul. Entah mimpi apa semalam, tiba-tiba Ami dikejutkan oleh suatu berita. Adiknya Iman: Mbak Ami, Mbak Ami. Mas Iman…Mas Iman….kena musibah! Ami: Innalillahi wa inna illahi roji’un… Saat itu Ami tidak mengetahui musibah apa yang menimpa Iman. Kemudian sang adik melanjutkan beritanya… Adiknya Iman: Mas Iman…kecelakaan…dan..meninggal… Ami: Innalillahi wa inna illahi roji’un… …dan Ami kemudian pingsan… Setelah bangun, Ami dihadapkan oleh mayat tunangannya. Ami yang shock berat tak bisa berkata apa-apa. Bahkan tidak ada air mata yang mengalir. Ketika memandikan jenazahnya, Amit terdiam. Ami memeluk tubuh Iman yang sudah dingin dengan begitu erat dan tak mau melepaskannya hingga akhirnya orang tua Iman mencoba meminta Ami agar tabah menghadapi semua ini. Setelah dikuburkan, Ami tetap terdiam. Ia berdoa khusyuk di depan kuburan Iman. Sampai seminggu ke depan, Ami tak punya nafsu makan. Ia hanya makan sedikit. Ia pun tak banyak bicara. Menangis pun tidak. Skripsinya terlantar begitu saja. Orangtua Ami pun semakin cemas melihat sikap anaknya tersebut. Akhirnya bapaknya Ami memarahi Ami. Sang bapak sengaja menekan anak tersebut supaya ia mengeluarkan air mata. Tentu berat bagi Ami kehilangan orang yang dicintainya, tapi tidak mengeluarkan air mata sama sekali. Rasanya beban Ami belum dikeluarkan. Setelah dimarahi oleh bapaknya, barulah Ami menangis. Tumpahlah semua kesedihan hatinya. Setidaknya, satu beban telah berkurang. …tiga bulan kemudian… Skripsi Ami belum juga kelar. Orangtuanya pun tidak mengharap banyak karena sangat mengerti keadaan Ami. Sepeninggal Iman, Ami masih terus meratapi dan merasa Iman hanya pergi jauh. Nanti juga kembali, pikirnya. Di dalam wajah sendunya, tiba-tiba ada seorang pria yang tertarik melihat Ami. Satria namanya (bukan nama sebenarnya). Ia tertarik dengan paras Ami yang manis dan pendiam. Satria pun mencoba mencaritahu tentang Ami dan ia mendengar kisah Ami lengkap dari teman-temannya. Setelah mendapatkan berbagai informasi tentang Ami, ia coba mendekati Ami. Ami yang hatinya sudah beku, tidak peduli akan kehadiran Satria. Beberapa kali ajakan Satria tidak direspon olehnya. Satria pun pantang menyerah, sampai akhirnya Ami sedikit luluh. Ami pun mengajak Satria ke kuburan Iman. Disana Ami meminta Satria minta ijin kepada Iman untuk berhubungan dengan Ami. Satria yang begitu menyayangi Ami menuruti keinginan perempuan itu. Ia pun berdoa serta minta ijin kepada kuburan Iman. Masa pacaran Ami dan Satria begitu unik. Setiap ingin pergi berdua, mereka selalu mampir ke kuburan Iman untuk minta ijin dan memberitahu bahwa hari ini mereka akan pergi kemana. Hal itu terus terjadi berulang-ulang. Tampaknya sampai kapanpun posisi Iman di hati Ami tidak ada yang menggeser. Tetapi Satria pun sangat mengerti hal itu dan tetap rela bersanding disisi Ami, walaupun sebagai orang kedua dihati Ami. Setahun sudah masa pacaran mereka. Skripsi Ami sudah selesai enam bulan yang lalu dan ia lulus dengan nilai baik. Satria pun memutuskan untuk melamar Ami. Sebelum melamar Ami, Satria mengunjungi kuburan Iman sendirian. Ini sudah menjadi ritual bagi dirinya. Disana ia mengobrol dengan batu nisan tersebut, membacakan yasin, sekaligus minta ijin untuk melamar Ami. Setelah itu Satria pulang, dan malamnya ia melamar Ami. Ami tentu saja senang. Tapi tetap saja, di hati Ami masih terkenang sosok Iman. Ami menceritakan bagaimana perasaannya ke Satria dan bagaimana posisi Iman dihatinya. Satria menerima semua itu dengan lapang dada. Baginya, Ami adalah prioritas utamanya. Apapun keinginan Ami, ia akan menuruti semua itu, asalkan Ami bahagia. Ami pun akhirnya menerima lamaran Satria. …beberapa bulan setelah menikah… Di rumah yang damai, terpampang foto perkawinan Ami dan Satria. Tak jauh dari foto tersebut, ada foto perkawinan Ami ukuran 4R. Foto perkawinan biasa, namun ada yang janggal. Di foto tersebut terpampang wajah Ami dan Iman. Ya, Ami yang masih terus mencintai Iman mengganti foto pasangan disebelahnya dengan wajah Iman. Foto itupun terletak tak jauh dari foto perkawinan Satria dan Ami. Sekilas terlihat foto tersebut hasil rekayasa yang dibuat oleh Ami. Namun Satria mengijinkan Ami meletakkan foto tersebut tak jauh dari foto perkawinan mereka. Bagaimanapun Ami tetap akan mencintai Iman sekaligus mencintai Satria, suami tercintanya. Dan Satria merupakan pria yang memiliki hati sejati. Baginya, cinta sejatinya adalah Ami. Apapun yang Ami lakukan, ia berusaha menerima semua keadaan itu. Baginya tak ada yang perlu dicemburui dari batu nisan. Ia tetap menjalankan rumah tangganya dengan sakinah, mawaddah dan warramah, hingga saat ini…

Monday, 20 October 2014

PERNIKAHAN RAFFI AHMAD DAN NAGITA SLAVINA

Setelah melalui prosesi panjang menuju janji suci, akhirnya Raffi Ahmad dan Nagita Slavina SAH menjadi pasangan suami istri, Jumat 17 Oktober 2014. Dilansir dari iBerita.com (18/10/2014), selamat dua hari ini, Raffi Ahmad dan Nagita Slavina melaksanakan serangkaian prosesi seperti prosesi siraman, pengajian dan midodareni yang telah dilaksanakan oleh Raffi pada hari Kamis, 16 Oktober 2014. Untuk masalah Ijab Qobul, Raffi Ahmad melaksanakannya pada hari Jumat, 17 Oktober 2014. Sebelum Raffi mengucap kata – kata sucinya tersebut, ia sempat ragu dan grogi karena takut jika ia melakukan kesalahan. Disaksikan langsung oleh Dahlan Iskan (Menteri BUMN) dan Ridwan Kamil (Walikota Bandung), Raffi mengucap kata – kata dan janji suci ke penghulu dengan khidmat dan lancar. Setelah selesai mengucap janji dan kata – kata suci tersebut, akhirnya Raffi Ahmad bisa tersenyum lebar dan ceria karena dengan selesainya mengucap janji suci tersebut, Raffi Ahmad sukses melepas masa bujangnya dan menjadi suami sah dari Nagita Slavina. Prosesi Ijab Qobul dari pernikahan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina disiarkan secara langsung oleh salah satu TV Indonesia, Trans TV mulai dari jam 8 pagi hingga jam 8 malam. Mulai dari persiapan pernikahan Raffi Ahmad hingga acara akad nikah. Setelah selesai melaksanakannya di Jakarta, Raffi Ahmad dan Nagita Slavina bakal langsung terbang ke Pulau Bali pada hari Minggu esok. Raffi dan Gigi tak sendiri, ia bakal ditemani oleh kedua orang tua dan para sahabatnya.
Nasi goreng sederhana praktis dan tanpa ribet seperti yang kami ulas diatas, bawa uang dan beli di pedagang kaki lima atau resto .. wkwkwk :) Akan tetapi kalau udah tutup lebih baik luangkan waktu sebentar daripada kelaparan. Mudah banget untuk membuat nasi goreng yang sederhana, apalagi bahan dan bumbu bisa dengan mudah menemukannya di dapur. Akan lebih enak lagi bila ada telur ayam, sosis atau ayam goreng.Oks.. silahkan disimak resep dan cara membuat nasi goreng sederhana berikut.................................................................................. Bahan-bahan yang diperlukan: 2 porsi nasi putih........ 2 butir telur ayam, dikocok............. Minyak goreng untuk menumis.......... Bumbu nasi goreng (dihaluskan) : 5 buah cabe merah........ 3 siung bawang merah............... 4 siung bawang putih............... Bumbu dan penyedap : Garam secukupnya................ Penyedap rasa secukupnya................ Kecap manis secukupnya........ Bawang merah goreng, taburan................. Bahan Pelengkap : Kerupuk..... Irisan Timun / Acar.............. Irisan Tomat............... Sambal terasi................ Cara Membuat Nasi Goreng............................................................................... Panaskan wajan, masukkan telur yang sudah dikocok, tunggu setengah matang selanjutnya masukkan bumbu yang telah dihaluskan. Aduk hingga keluar aromanya.............. Masukkan nasi putih, garam, penyedap dan kecap secukupnya. Aduk hingga semua tercampur dan merata. Angkat............... Sajikan di piring, bila perlu tambahkan lagi telur ceplok atau telur dadar......... Untuk penyajiannya jangan lupa kerupuk dan irisan timun/acar biar lebih enak..............
Berikut ini adalah biodata lengkap Billy Davidson : Nama lengkap : Billy Davidson Nama panggilan : Billy Tanggal lahir : 21 November 1991 Anak ke : 6 dari 6 bersaudara (bungsu) Profesi : Aktor, Model, Bintang Iklan Tahun aktif : 2006 sampai sekarang Agama : Kristen Warna favorit : Hitam, Kuning Akun Twitter Billy Davidson : @BillyDavidson_
Hidup itu layaknya waktu yang terus berjalan dan takkan pernah bisa kembali lagi. Jadi pergunakanlah waktumu sebaik mungkin Langkah terbaik untuk meramalkan masa depan adalah dengan cara menciptakan sendiri masa depan tersebut Orang yang mampu belajar dari kegagalan adalah pemenang, namun orang yang selalu menutupi kegagalan adalah pecundang Jangan pedulikan orang yang mencaci maki dan membenci anda, karena dia bukan orang yang pantas mendapat perhatian dari anda. Karena yang paling utama adalah orang yang selalu ada untuk anda. Jika engkau gagal pada hari ini, janganlah engkau berputus asa, karena masih ada hari besok dan seterusnya yang akan mengajakmu menjadi lebih sukses. Seseorang dikatakan gagah perkasa, itu bukanlah orang yang bertubuh besar dan kuat, namun orang yang mampu mengendalikan emosinya pada waktu dia marah Bahagia itu adalah mereka yang bangga menjadi dirinya sendiri, tanpa mengkuawatirkan apa yg dipikirkan orang lain pada dirinya. Pacaran itu tidak harus selalu dimanjakan dan disayang, tapi ada hal yang lebih penting dari semua itu, diajarkan cara saling menghormati pasangan dan saling menerima Jangan pernah melihat siapa yang berbicara, namun lihatlah tentang apa yang disampaikannya Bahagia itu tidak berarti segalanya sempurna. Bahagia yang sesungguhnya adalah ketika anda memutuskan untuk melihat sesuatu secara sempurna.

Thursday, 15 May 2014

my cerpennn

Antara Aku, Teman Sekelas dan Tuhan Yang Mengetahuinya


Pagi yang cukup mendung mengawali hari gue (biasanya penulis romantis, nulisnya pagi yang cerah mengawali hariku.. sayangnya bukan gue banget..). yap, pagi mendung karena hujan semalam semakin membuat gue males berangkat sekolah, menurut gue itu sih, manusiawi terlebih siswa siswi bahkan.. gue yakin gak Cuma gue doang yang ngerasa kaya gini mungkin anak sekelas juga bakal ngerasain hal yang sama. Dengan kondisi malas dan ngantuk berat, gue paksain langkahin kaki ke sekolah. Setibanya gue di sekolah, gue lihat wajah wajah penuh kemalasan berjejer di sekolah. “No, semangat banget pagi ini.” Kata nia ke gue. Mata yang ngantuk berat semakin kesal karena mendengar panggilan nia, gue bingung kenapa sih orang orang lebih suka manggil gue NO daripada REN? Padahal nama gue udah keren keren Reno Arya Putra. Nama sekelas artis, kan? Tapi masa dipanggil samaan kaya tukang parkir depan sekolah, pak nono. Nambah bete kan? Ya udah kita lupain seputar nama gue. Sekarang kita kembali ke cerita.. gue tau maksud nia itu nyindir gue karena gue datang dengan penampilan yang ala kadarnya. Ya, sepatu sedikit basah gara- gara becekan depan kompleks, celana yang kena air becekan yang dikirain ngompol, baju yang langsung gue ambil dari jemuran (karena hujan, jemuran gak kering, jadi gak disetrika (#ngelestingkatdewa), ditambah muka gue yang biasanya sedikit ganteng jadi kucel kaya baju gue yang gak sempet disetrika ini, semakin menambah kesan males yang sebentar lagi akan melekat di gue. Entah mengapa cowok ganteng setengah males kaya gue bisa dipilih jadi bendahara kelas. Biasanya bendahara kelas, kan cewek, bukan cowok. Sempet gue menolak untuk jadi bendahara tapi malah semakin dipaksa sama anak anak sekelas. Dengan setengah hati gue menerima jabatan itu. Walaupun gue setengah hati dengan jabatan itu, tapi gue tetep bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas (#bendahararajin). Selain sebagai bendahara, gue juga merangkap sebagai manager peralatan kelas. Jabatannya sih keren, tapi gue harus menanggung kerjaan untuk selalu mempersiapkan peralatan kelas. Keren kan kerjaannya? Bagi gue sih enggak. Seperti biasa saat bel masuk guru pun mulai mengajar. Sekarang adalah jam pelajarannya bu Lili, guru paling killer di sekolah gue. Dia itu seorang komentator tetap untuk kritik kelas gue. Entah mengapa itu guru hobinya yaitu mencari kekurangan kelas gue. Jadi sebelum dia datang ke kelas gue, kelas gue harus ngelakuin ritual dulu, bukan mandi kembang tujuh rupa, tapi bersihin kelas, ngecek kelengkapan kelas, dan lain sebagainya. Pokoknya kalau dia datang, kelas harus kelihatan perfect. Saat ia melangkah menuju kelas gue, seisi kelas deg-degan kaya mau dibagiin hasil ulangan akhir. Waktu dia masuk, semua menunggu kata pertama yang diucapkannya. “kok, kelasnya masih kotor sih? Gak disapu ya tadi?” ujarnya. Langsung deh semangat belajar seisi kelas luntur semua. Kita tinggal nunggu, kritikan apa aja yang bakal disampaikan oleh bu Lili. Saat bu Lili ingin menulis di papan tulis, “kok spidolnya gak bisa, gimana sih, kelas kok kaya gini? Siapa manager peralatan kelasnya?” tanyanya. Langsung sekelas rame rame nunjuk gue. Karena teramat ngantuk, gue gak sadar kalau gue tertidur. Dan jadilah gue kena omelan itu guru. Karena sakit hati dikritik terus gue beliin peralatan tulis kelas selengkap mungkin. Bahkan, ada yang gue beli sampai tiga.. “kalau sampai itu guru masih komplain tentang peralatan kelas, gue suruh dia beli peralatan sendiri.” Kata gue dengan kesel. Gue sempet mikir untuk membatalkan rencana kejutan ulang tahun buat guru itu karena perasaan kesel yang teramat mendalam. Gue juga sempet mikir untuk memberi kado kepada itu guru yaitu, selusin spidol papan tulis, biar kalau spidol kelas lagi gak ada dia punya spidol sendiri.. Niat gue itu pun didukung sama anak sekelas. Nah, keesokan harinya, gue ketemu sama pelajaran dia lagi. Gue sekelas langsung ngelakuin ritual nyapu kelas biar gak kena ocehan lagi. Dan saat dia datang, semua menunggu kata pertama apa yang diucapkannya. Ternyata dia masuk tanpa kritikan, langsung senyum mengembang di wajah anak sekelas. Menurut gue itu adalah suatu awal yang baik. Gue juga ngelihat dia bawa bungkusan pake Koran. Yang gue pikir, itu bungkusan isinya tempe, soalnya kemaren gue ngelihat dia bawa bungkusan tempe. Anak sekelas gak ada yang perhatiin isi bungkusan itu. Saat jam pelajaran hampir habis, dia langsung membuka bungkusan itu. Ternyata isinya adalah… coklat SILVER QUEEN mini sekardus. Langsung deh, anak sekelas rame ngelihatnya. Sebagai anak yang normal, gue juga seneng dapet coklat. Terus coklatnya dibagiin sekelas. Tanpa gue mikir dikasih coklat karena apa, langsung gue samber itu coklat. Katanya, dia bagi bagi coklat karena anak kelas gue selalu menyambut kedatangannya dengan spesial. Padahal itu guru gak tau kalau kita nyambut dengan spesial biar kita gak kena ocehannya. Biarlah agar menjadi rahasia antara gue, anak sekelas, dan Tuhan lah yang mengetahui.. Karena sudah dikasih coklat, langsung deh, anak sekelas melanjutkan rencana kejutan ulang tahun ibu Lili. Dasar ya, anak remaja labil, dikasih coklat langsung berubah niatnya..

PENERAPAN MODEL KOMPETENSI GURU MELALUI KEGIATAN BERBAGI PRAKTIK BAIK PADA KOMUNITAS BELAJAR

  BAB I PENDAHULUAN   A. Latar Belakang Masalah Pendidikan di Indonesia terus mengalami dinamika perubahan yang signifikan, teruta...